Orang Arab zaman dahulu memiliki kebiasaan menamai bulan-bulan dalam kalender mereka berdasarkan peristiwa yang terjadi di masa tersebut.
Karena Ramadhan jatuh pada musim panas yang sangat terik, mereka pun menamainya dengan Ramadhan.
Sama seperti bulan-bulan lain dalam kalender Hijriyah, nama-nama tersebut juga berasal dari kebiasaan masyarakat Arab sebelum Islam. Contohnya:
- Rabi’ul Awal dan Rabi’ul Akhir diambil dari kata Rabi’ yang berarti musim semi, karena bulan-bulan ini jatuh pada musim tersebut.
- Sya'ban berasal dari kata Tasy'ab yang berarti berpencar. Pada bulan ini, masyarakat Arab biasanya menyebar untuk mencari air sebelum memasuki bulan Ramadan.
- Muharram berarti bulan yang diharamkan untuk berperang, sesuai dengan aturan suku Quraisy di masa jahiliyah.
BACA JUGA:5 Restoran Halal & Bebas Afiliasi Israel untuk Bukber Ramadhan, No Worry Makan Enak!
BACA JUGA:3 Amalan Wajib di Ramadhan ala Ustaz Adi Hidayat, Biar Puasamu Nggak Cuma Lapar & Haus!
Dengan demikian, Ramadan pada awalnya hanya sekadar nama bulan yang menandakan kondisi cuaca pada saat itu, bukan karena alasan ibadah tertentu.
Ketika Islam datang, nama Ramadan tetap dipertahankan, tetapi maknanya menjadi lebih dalam.
Bulan ini bukan lagi hanya sekadar bulan panas, tetapi menjadi bulan penuh berkah, ampunan, dan peluang untuk meraih ketakwaan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." (QS Al-A'raf ayat 31)