Aksi demonstrasi yang berlangsung serentak di berbagai daerah menjadi pemicu utama kekhawatiran investor.
Selain itu, pasar juga menanti rilis data ekonomi penting seperti Indeks Manufaktur PMI Indonesia periode Agustus 2025 dari S&P Global.
BACA JUGA:Update Harga BBM Pertamina Hari Ini 1 September 2025: Pertamax Stabil, Dexlite dan Dex Turun
Sebelumnya, PMI Indonesia mengalami kontraksi selama empat bulan berturut-turut, dengan angka terakhir di Juli sebesar 49,2.
Jika data Agustus kembali di bawah 50, maka dunia usaha masih berada dalam fase kontraksi.
Analis pasar modal menilai bahwa ketidakstabilan politik dalam negeri berpotensi mendorong capital outflow, terutama dari investor asing.
Ditambah dengan sentimen global seperti ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga The Fed, pasar modal Indonesia berada dalam tekanan ganda.
BACA JUGA:Ini Cara Klaim Saldo DANA Gratis Rp270.000 dari Aplikasi Penghasil Uang, Cukup Selesaikan Misi Aja!
Sektor-sektor defensif seperti consumer staples dan telekomunikasi menjadi pilihan investor yang menerapkan strategi “wait and see”.
IHSG yang anjlok tajam di awal September 2025 menjadi potret nyata bagaimana kondisi sosial-politik bisa memengaruhi psikologi pasar.
Meskipun pemerintah menegaskan bahwa fundamental ekonomi tetap solid, investor tetap berhati-hati menghadapi potensi demo lanjutan dan rilis data ekonomi yang menentukan arah pasar ke depan.
Stabilitas politik dan transparansi kebijakan menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan pasar modal Indonesia.