Tahun baru yang menjadi acuan utama dalam agama Islam adalah Tahun Baru Hijriyah.
Penanggalan ini dihitung mulai dari peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.
Peristiwa Hijrah bukan hanya menjadi titik awal penanggalan Islam, tetapi juga memiliki makna sejarah dan spiritual yang mendalam.
Ia menandai awal terbentuknya komunitas Islam yang kokoh dan berlandaskan ajaran agama.
BACA JUGA:Merayakan Kekayaan Budaya: Sejarah dan Tradisi Tahun Baru Imlek yang Meriah
Tahun Hijriyah digunakan untuk menentukan waktu ibadah penting seperti bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, serta waktu pelaksanaan ibadah Haji dan Umrah.
Makna Mendalam di Balik Penanggalan
Ustadzah Halimah Alaydrus menekankan bahwa baik sistem Masehi maupun Hijriyah memiliki peran masing-masing.
Penanggalan Masehi membantu umat Islam berinteraksi dengan dunia luar, sedangkan Tahun Hijriyah menjadi pengingat akan nilai-nilai sejarah dan spiritual yang harus dijaga.
BACA JUGA:Hukum Tahun Baru Menurut Pendapat Para Pemuka Agama Islam, Yuk Simak!
BACA JUGA:Sejarah dan Makna Tahun Baru Hijriah, Yuk Simak dan Hijrah ke Hidup yang Lebih Baik 1446H
Saat menyambut Tahun Baru Masehi, umat Islam disarankan untuk tidak terjebak pada perayaan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Sebaliknya, manfaatkan momen ini sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi diri.
Dan juga memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan sesama, serta merencanakan hal-hal positif untuk tahun yang akan datang.
Apakah Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang cara merencanakan aktivitas ibadah sesuai dengan tahun Hijriyah di tahun baru Masehi ini?
BACA JUGA:5 Tanda Dayyuts! Tahun Baru di Penuhi Para Remaja Pacaran, Benarkah Ayah Tak Cemburu...