Konflik Netizen Korea Selatan dan Asia Tenggara di X Memanas, Berawal dari Pelanggaran Aturan Konser DAY6

Jumat 13 Feb 2026 - 13:36 WIB
Reporter : Yudha IP
Editor : Yudha IP

BACAKORAN.CO - Konflik antara netizen Korea Selatan dan warganet Asia Tenggara kembali mencuat di media sosial X dalam beberapa hari terakhir.

Perdebatan yang awalnya berkaitan dengan pelanggaran aturan konser berkembang menjadi pertikaian bernuansa rasis dan meluas di kawasan Asia Tenggara.

Perselisihan ini bermula dari konser grup band Korea Selatan DAY6 yang digelar di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 31 Januari 2026.

Dalam konser tersebut, seorang penggemar asal Korea Selatan yang dikenal sebagai "fansite master" tertangkap membawa kamera profesional lengkap dengan lensa panjang ke dalam area konser.

Penggunaan kamera profesional merupakan pelanggaran serius karena telah dilarang oleh pihak promotor demi menjaga kenyamanan penonton serta perlindungan hak cipta.

BACA JUGA:Diserang Soal Anggaran, Prabowo Balik Sindir Budaya Rapat dan Seminar di Hotel!

BACA JUGA:Seorang Emak-emak Ditangkap Warga Usai Nekat Lempar Bom Molotov ke Toko Emas di Makassar, Apa Motifnya?

Aksi tersebut direkam oleh penonton lokal dan kemudian menyebar luas di media sosial hingga menjadi viral.

Meski penggemar yang bersangkutan telah menyampaikan permintaan maaf, situasi tidak mereda.

Sejumlah netizen Korea Selatan justru membela tindakan tersebut dan melontarkan kritik kepada warganet Asia Tenggara yang menyoroti pelanggaran aturan konser.

Ketegangan meningkat ketika muncul unggahan bernada merendahkan dari akun warganet Korea Selatan.

Salah satu unggahan menampilkan tangkapan layar video klip grup musik asal Indonesia yang berlatar persawahan dengan keterangan, “Kami tidak punya uang untuk menyewa lokasi syuting, jadi kami merekam di sawah.”

BACA JUGA:Viral Video Bentrok TNI-Polri di Mappi, Diduga Dipicu Geber Motor hingga Miras

BACA JUGA:Hujan Deras dan Angin Kencang Terjang Stadion Pakansari Bogor, Atap Beterbangan dan Pohon Tumbang!

Unggahan tersebut menuai kecaman luas karena dianggap tidak hanya merendahkan karya seni, tetapi juga melecehkan latar agraris yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Asia Tenggara.

Kategori :