Bahrain bahkan melaporkan jumlah pencegatan yang jauh lebih besar.
Negara itu mengklaim telah mencegat 92 rudal dan 151 drone sejak dimulainya konflik yang mereka sebut sebagai "agresi brutal Iran".
BACA JUGA:Kian Memanas, Iran Berhasil Serang Kantor Netanyahu dengan Rudal Balistik Kheibar!
Pangkalan Militer Amerika di Arab Saudi Jadi Target
Di Arab Saudi, ketegangan meningkat setelah militer kerajaan mengumumkan telah menghancurkan tiga rudal balistik yang mengarah ke Pangkalan Udara Prince Sultan.
Pangkalan tersebut diketahui menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Selain itu, militer Saudi juga menembak jatuh 17 drone yang terbang di atas ladang minyak Shaybah di wilayah tenggara negara itu.
Serangan terhadap fasilitas energi ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap stabilitas pasokan minyak global.
BACA JUGA:Amerika dan Israel Mulai Serang Iran Besar-besaran, Kini Teheran Dibombardir
Kuwait Kurangi Produksi Minyak
Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, perusahaan minyak nasional Kuwait mengumumkan pengurangan produksi minyak mentah sebagai langkah pencegahan.
Keputusan tersebut diambil karena meningkatnya serangan Iran serta ancaman terhadap Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran vital yang menjadi titik transit utama ekspor energi dari kawasan Teluk ke berbagai negara dunia.
Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu gejolak harga energi global.
BACA JUGA:Iran Balas Dendam! Armada ke-5 Amerika di Bahrain Kena Serangan Rudal
Yordania Tuduh Iran Menyerang Wilayahnya
Ketegangan tidak hanya terjadi di negara negara Teluk.
Di wilayah utara Timur Tengah, Yordania juga menuduh Iran secara langsung menargetkan wilayahnya.
Militer Yordania menyatakan Iran telah menembakkan 119 rudal dan drone ke wilayah kerajaan tersebut dalam sepekan terakhir.