BACAKORAN.CO - Iran resmi menutup Selat Hormuz pada Maret 2026, yang menyebabkan produksi minyak di kawasan Teluk Persia anjlok hingga sekitar 7 juta barel per hari.
Langkah ini membuat banyak negara, termasuk Arab Saudi, UEA, Bahrain, Irak, dan Kuwait, terpaksa membatasi produksi karena jalur ekspor utama mereka terhenti.
Dampaknya, harga minyak dunia melonjak tajam dan cadangan strategis negara-negara konsumen energi mulai dilepas untuk menstabilkan pasokan.
BACA JUGA:Konflik Makin Memanas, Donald Trump Kirim Pasukan Baru ke Iran dan Sebut NATO Pengecut, Kenapa?
BACA JUGA:Donald Trump Panas Dingin, Berjanji Serangan Israel Tak Akan Hantan Iran Lagi, Begini!
Apa Maksud dari “Kahar Stop Produksi Minyak”?
- Kahar di sini merujuk pada kondisi force majeure atau keadaan darurat yang tidak bisa dihindari.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat negara-negara produsen minyak tidak bisa menyalurkan ekspor.
- Akibatnya, mereka terpaksa menghentikan produksi sementara karena tidak ada jalur distribusi yang aman.
- Jadi, “Kahar Stop Produksi Minyak” berarti penghentian produksi bukan karena keinginan, melainkan karena keadaan darurat geopolitik.
BACA JUGA:Kian Memanas, Iran Siapkan Rudal Haj Qasem, AS dan Israel Ketar ketir?
BACA JUGA:Selat Hormuz Tetap Dibuka Terbatas, Iran Izinkan Kapal Netral Melintas di Tengah Konflik
Pentingnya Selat Hormuz
- Selat Hormuz adalah jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.
- Sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati selat ini setiap hari.
- Penutupan selat otomatis memblokir ekspor minyak dari negara-negara Teluk ke pasar global.
- Kondisi ini menjadikan Selat Hormuz sebagai titik krisis energi dunia.