Menurut pemrosesan data di dalam sistem AI-nya, pengadaan aneh Komdigi ini secara otomatis mendapat label absurd karena nilainya terlampau berlebihan untuk sekadar memenuhi kebutuhan estetika visual yang bukan merupakan kebutuhan fungsional atau esensial kementerian.
BACA JUGA:Helikopter Jatuh di Kalbar, 8 Korban Dipastikan Tewas, 3 Masih Terjepit
Bukan Hanya Tanaman, Akuarium Juga Jadi Sorotan di Platform X
Selain isu sewa tanaman hias, kalangan netizen juga menemukan kejanggalan lain terkait proyek pemeliharaan akuarium.
Berdasarkan pantauan interaksi di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), akun @dosenkesmas (MinDos) turut mengawal temuan ini.
Cuitan akun tersebut mengungkapkan adanya anggaran "Pemeliharaan Akuarium" yang berlokasi di Gedung utama lantai tujuh senilai Rp 153 juta.
Unggahan ini segera memicu gelombang diskusi panas mengenai rentetan pengadaan aneh Komdigi lainnya di kalangan pengguna internet.
Berbagai balasan dari netizen pun bermunculan menanggapi transparansi isu ini.
Pengguna X dengan nama akun @tiayuris, memuji keberanian Abil bersuara lantang.
"ya allah biaya mandiin ikan aja sampai keluar duit ratusan juta, giliran rakyat aja disuruh efesiensi terus," cuit @nggeh_monggo.
Sementara itu, sentilan satire diungkapkan oleh pengguna @Akujodoh_kamu yang berkelakar.
BACA JUGA:Pelatihan Pengelola Perpustakaan Sekolah Rakyat Dimulai, Dorong Literasi Generasi Muda
"Akuarium ini multi fungsi bisa buat water cooling server nasional Bismillah komisaris," tulis @Akujodoh_kamu.
Sorotan dan investigasi publik terhadap rentetan pengadaan aneh Komdigi ini diharapkan mampu mendorong evaluasi menyeluruh dari Badan Pemeriksa Keuangan maupun institusi pengawas terkait.
Hingga rentetan temuan pengadaan aneh Komdigi ini menjadi perbincangan panas dan viral di berbagai platform media sosial, tercatat belum ada tanggapan atau klarifikasi resmi dari pihak Kementerian Komunikasi dan Digital.
Sikap instansi yang belum angkat bicara terkait tingginya anggaran sewa tanaman hias dan pemeliharaan akuarium ini tentu semakin memicu spekulasi di tengah masyarakat.