Formula penetapan tersebut diimplementasikan agar selaras dengan Keputusan Menteri ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 sebagai Perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020.
Penyesuaian ini merupakan langkah bisnis korporasi yang merespons dinamika harga minyak mentah dunia dan fluktuasi nilai tukar yang berdampak langsung pada biaya penyediaan bahan bakar impor berkualitas tinggi.
Nasib Pertalite Dan Analisis Konsumsi Kendaraan
Di tengah lonjakan varian nonsubsidi kelas atas, kamu yang menggunakan bahan bakar subsidi dan kelas menengah masih bisa bernapas sedikit lega.
Harga BBM Pertamax dengan nilai RON 92 terpantau masih dipertahankan di level Rp12.300 per liter dan Pertamax Green berada di angka Rp12.900 per liter.
Pertamina juga masih menahan harga BBM subsidi jenis Pertalite yang sebesar Rp10.000 per liter dan Biosolar sebesar Rp6.800 per liter.
BACA JUGA:Dipaksa Bungkam! Kasus Pelecehan Grup WA Alumni Trenmatika Viral, Korban: Aku Hapus Takedown Dulu
Dari sudut pandang analitis otomotif, melambungnya harga Pertamax Turbo dan Dexlite diproyeksikan akan mengubah pola mobilitas harian masyarakat menengah ke atas.
Pemilik kendaraan mewah bermesin kompresi tinggi atau SUV diesel modern akan merasakan pembengkakan biaya operasional yang sangat nyata.
Hal ini berpotensi memicu migrasi sebagian konsumen untuk kembali menggunakan produk reguler seperti Pertamax biasa.
Lebih jauh situasi ini bisa memengaruhi nilai jual kembali kendaraan bermesin diesel bertenaga besar karena daya tariknya kerap bergantung pada ketersediaan bahan bakar berkualitas tinggi seperti Dexlite dan Pertamina Dex yang kini melambung harganya.