Mengejutkan! Tes Kesehatan KDKMP Wajibkan Tanpa Busana, Diraba dan Disenter, Netizen: Kontrak 2 Tahun...

Sabtu 23 May 2026 - 11:00 WIB
Reporter : Ario
Editor : Kurni

BACAKORAN.CO - Jagat media sosial X digemparkan oleh prosedur dalam rekrutmen KDKMP, di mana peserta diwajibkan menjalani tes kesehatan KDKMP Tanpa busana.

Protes bermula dari keluhan para pelamar yang merasa dilecehkan karena pemeriksaan fisik tersebut dinilai berlebihan untuk posisi pegawai koperasi dengan sistem kontrak hanya 2 tahun.

Informasi ini pertama kali meledak dan menjadi sorotan publik melalui unggahan akun X Kapten Haddock (@SeekHustle) pada tanggal 22 Mei 2026.

Cuitan yang telah menembus angka 27 ribu tayangan tersebut mempertanyakan urgensi dari pemeriksaan fisik ekstrem untuk calon manajer koperasi.

BACA JUGA:Tolak Tunduk pada Premanisme, Putri Penulis Ahmad Bahar Diintimidasi di Markas GRIB Jaya

Dalam tangkapan layar yang dibagikan, terungkap beberapa pengakuan mengejutkan dari para pelamar rekrutmen KDKMP di berbagai daerah.

Pengguna X dengan akun @miftahhjj menyebutkan bahwa lokasi tes yang ia jalani berada di Pekanbaru dengan komponen cek yang seharusnya sama di tiap daerah.

Lebih parah lagi, saat ada pengguna yang bertanya apakah peserta benar-benar harus membuka seluruh pakaian, muncul konfirmasi yang meresahkan.

"Bantu jawab, telanjang bulat semua tubuh depan belakang diraba dan disenter," tulis @h2h_forever25.

Penjelasan lebih lanjut datang terkait latar belakang pihak penyelenggara.

BACA JUGA:Selidiki Kebakaran Ruang Auditorium Kampus Binus Kebon Jeruk, Polisi Turun Tangan Cari Penyebab Utamanya

Akun X @ireallylvyou menyebutkan bahwa rekrutmen ini diduga diadakan di bawah instansi pertahanan dan tes dilakukan di rumah sakit aparat militer.

Meskipun pemeriksaan dilakukan oleh dokter dengan jenis kelamin yang sama, metode mengumpulkan 10 orang telanjang dalam satu ruangan dianggap sangat tidak lazim untuk masyarakat sipil.

Pemeriksaan fisik menyeluruh secara telanjang dan berkelompok seperti ini rentan merendahkan martabat kemanusiaan dan rawan memicu trauma psikologis jangka panjang.

Gelombang penolakan keras datang dari kelompok pemerhati hak perempuan dan masyarakat.

Kategori :