Kecurigaan bermula keesokan paginya ketika toko tidak kunjung buka.
Rekan kerja yang merasa janggal kemudian meminta bantuan warga untuk membuka paksa pintu ruko pada pukul 12.30 WIB siang.
Di dalam, keempat korban ditemukan tidak sadarkan diri.
BACA JUGA:Pura-pura Minta Diantar Pulang, 2 Remaja Ancam Dengan Sajam dan Rampas Sepeda Motor
Dua orang dinyatakan meninggal dunia, yakni RR usia 24 tahun asal Tebing Tinggi dan AA usia 22 tahun asal Serdang Bedagai.
Dua korban lainnya, M usia 22 tahun dan DCA usia 17 tahun, masih dirawat di rumah sakit.
Pihak kepolisian saat ini sedang melakukan penyelidikan, meskipun keluarga korban dikabarkan menolak prosedur autopsi dan masih menunggu hasil pemeriksaan medis.
Rentetan insiden ini menjadi peringatan keras akan bahaya siluman dari gas karbon monoksida.
Gas pembakaran dari mesin genset ini sama sekali tidak memiliki warna dan bau, sehingga korban sering kali tidak sadar saat menghirupnya hingga memicu kondisi hipoksia atau kekurangan oksigen fatal pada otak.
BACA JUGA:Hujan Deras, Ratusan Hektare Sawah di Kabupaten OKU Timur Terendam Banjir
Sangat disarankan untuk selalu menempatkan genset di area luar ruangan dengan sirkulasi udara yang maksimal demi mencegah tragedi serupa terulang kembali, terutama di saat krisis pasokan energi seperti sekarang.
Keriuhan dan kepanikan warga akibat insiden ini memicu gelombang kritik pedas di platform media sosial X.
Banyak pihak yang menilai lambatnya penanganan dari pihak berwenang menjadi faktor utama melayangnya nyawa rakyat sipil di Sumatra.
"listrik sumatra mati total berhari-hari, rakyat kecil terpaksa pakai genset, akhirnya 2 nyawa melayang dan 2 kritis keracunan karbon monoksida. ini bukan musibah, ini kegagalan fatal pemerintah dan pln yang tak mampu jaga listrik dasar. nyawa rakyat jadi korban kelalaian negara," tulis @marsekarl.
Senada dengan itu, netizen lain juga ikut mendesak tindakan cepat dari pemangku kebijakan.
BACA JUGA:Prabowo Tegas Ancam Copot Pimpinan Bea Cukai: Kalau Tak Mampu, Silakan Mundur atau Dipecat!