MBG Tak Disentuh Siswa, Pati Malah Geger Keracunan

Rabu 09 Sep 2026 - 15:30 WIB
Reporter : djarwo
Editor : djarwo

BACAKORAN.CO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi bahan perdebatan di media sosial. Kali ini, sebuah unggahan memperlihatkan ratusan kotak makanan di SDN 015 Tambusai Utara, Riau, yang disebut diletakkan di lantai dan tidak disentuh siswa.

Unggahan akun X @Ari3Pras pada 9 September 2026 itu langsung mengundang berbagai reaksi. Sebagian warganet menyebut kejadian tersebut sebagai bentuk penolakan terhadap MBG, sementara lainnya mengaitkannya dengan rentetan kasus dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi MBG di sejumlah daerah.

Percakapan semakin panas karena pada hari yang sama, ratusan siswa di Pati, Jawa Tengah, memang dilaporkan mengalami gejala mual, diare hingga pusing setelah menyantap menu MBG.

BACA JUGA:136 Siswa SMAN 1 Tunjungan Blora Diduga Keracunan MBG, Satgas Usulkan SPPG Sukorejo 2 Ditutup

Kotak MBG Dibiarkan di Lantai

Dalam unggahannya, @Ari3Pras menulis bahwa kejadian serupa sebelumnya disebut terjadi di Banjarnegara, Kerinci dan Yogyakarta.

Kini, akun tersebut menyebut giliran Tambusai Utara, Riau.

“Ratusan kotak makanan MBG di SDN 015 Tambusai Utara, Riau, viral setelah sengaja diletakkan begitu saja di lantai dan tidak disentuh oleh para siswa.”

Unggahan itu kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai kepercayaan siswa dan orang tua terhadap program MBG.

Namun, penting dicatat, belum ada keterangan resmi dalam materi yang tersedia mengenai alasan siswa tidak mengambil atau mengonsumsi makanan tersebut.

Karena itu, aksi tersebut belum bisa langsung disimpulkan sebagai pembangkangan massal atau bentuk penolakan resmi terhadap program pemerintah.

BACA JUGA:Anak Keracunan MBG Karo, Asap rokok Jadi yang Disalahkan?

'Stop MBG' Mulai Bermunculan

Kolom komentar justru menunjukkan bahwa sebagian warganet membaca video tersebut sebagai simbol perlawanan.

Akun @rizieqdivist menyebut gagasan tersebut sebagai bentuk pembangkangan rakyat secara massal. Komentar itu kemudian mendapat balasan bernada sindiran dari @Ari3Pras.

Sementara @MTabuni93629 menulis singkat:

“Stop MBG. ⛔⛔⛔⛔”

Komentar lain bahkan meminta pihak tertentu menjadi orang pertama yang mengonsumsi makanan tersebut sebagai bentuk pembuktian keamanan.

Nada percakapan menunjukkan bahwa isu MBG kini tidak hanya berkaitan dengan menu dan kandungan gizi. Kepercayaan publik terhadap keamanan makanan juga menjadi persoalan utama.

BACA JUGA:Keracunan MBG Berastagi Bikin Twitter Geger, Ginjal Disorot

Pati: 230 Siswa Diduga Sakit Usai Makan MBG

Perdebatan tersebut menjadi semakin sensitif karena pada Rabu, 9 September 2026, muncul kasus baru di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati.

Dinas Kesehatan Kabupaten Pati menyebut ada dua sekolah yang terdampak, yakni MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 Gembong. Data sementara yang dilaporkan detikJateng mencatat 103 siswa dan 13 guru di SMPN 1 Gembong mengalami mual serta diare, sedangkan di MTsN 3 Pati terdapat 127 siswa dan 30 guru dengan keluhan serupa.

Dengan angka tersebut, sedikitnya 230 siswa dilaporkan mengalami gejala.

Para siswa kemudian dievakuasi ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan.

Namun, Dinkes Pati menegaskan bahwa penyebabnya belum dapat dipastikan sebagai keracunan akibat MBG. Penyelidikan epidemiologis dan pemeriksaan laboratorium masih dilakukan.

BACA JUGA:Kasus Keracunan MBG Berulang, Siswa Trauma: Gak Mau Lagi Aku Makan MBG, Pak

Menu Nasi Bakar Jadi Sorotan

Kepala MTsN Gembong Zaenal Arifin mengatakan makanan yang dikonsumsi siswa pada Selasa, 8 September, antara lain nasi bakar dengan ayam suwir, telur ceplok, orak-arik tempe, lalapan, kerupuk udang dan semangka.

Makanan tersebut diproses oleh SPPG Gembong 1.

Menurut keterangan sekolah, distribusi makanan juga mengalami keterlambatan dibanding biasanya. Gejala seperti sakit perut dan diare mulai dirasakan sejumlah siswa pada malam hari hingga keesokan paginya.

Tetapi sekali lagi, keterlambatan distribusi maupun jenis menu belum membuktikan penyebab penyakit.

Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya yang akan membantu memastikan apakah terdapat kontaminasi atau faktor lain.

BACA JUGA:Keracunan MBG Sidoarjo, 273 Santri Bikin Twitter Heboh

Warganet Mulai Membandingkan dengan Kasus Karo

Kasus Pati membuat sebagian warganet mengingat kembali kejadian di Karo.

Akun @hendrobgkl meminta orang tua siswa lebih tegas agar kejadian yang disebutnya terjadi di Karo tidak terulang. Sementara akun @szgld bahkan menandai Presiden Prabowo dan meminta program MBG dihentikan.

Komentar lain dari @diktumid mengambil posisi berbeda.

Ia menyampaikan keprihatinan terhadap siswa yang diduga menjadi korban dan meminta penyedia makanan dimintai pertanggungjawaban apabila terbukti terjadi kelalaian.

Dari sini terlihat adanya tiga arus opini di media sosial.

Pertama, kelompok yang ingin MBG dihentikan. Kedua, kelompok yang menuntut evaluasi dan pertanggungjawaban penyedia makanan. Ketiga, kelompok yang masih menunggu hasil pemeriksaan sebelum menarik kesimpulan.

BACA JUGA:Puluhan Siswa SMKN 4 Pati Diduga Keracunan MBG, Pemkab Auto Kirim Sampel Lauk-Sayur ke Laboratorium

Dari Riau ke Pati, Masalah Utamanya Adalah Kepercayaan

Jika dua percakapan tersebut dibaca bersamaan, persoalannya bukan sekadar apakah satu kotak makanan dimakan atau tidak.

Yang lebih besar adalah tingkat kepercayaan masyarakat terhadap keamanan makanan yang dibagikan melalui program MBG.

Di Tambusai Utara, video yang beredar memperlihatkan makanan yang disebut tidak disentuh siswa. Di Pati, ratusan siswa dan sejumlah guru justru dilaporkan mengalami gangguan pencernaan setelah menyantap makanan yang diduga terkait MBG.

Dua peristiwa tersebut memang belum tentu memiliki penyebab yang sama.

Tetapi secara komunikasi publik, keduanya bertemu pada satu persoalan: masyarakat membutuhkan kepastian bahwa makanan yang diberikan kepada anak-anak benar-benar aman.

Jangan Sampai Perang Narasi Mengalahkan Fakta

Kasus seperti ini sangat mudah berkembang di media sosial.

Video makanan yang dibiarkan begitu saja dapat langsung ditafsirkan sebagai penolakan. Sebaliknya, kabar siswa sakit setelah makan MBG juga dapat langsung disebut sebagai keracunan sebelum hasil pemeriksaan keluar.

Padahal, penyebab medis harus ditentukan melalui pemeriksaan yang tepat.

Karena itu, pemerintah, pengelola SPPG dan pihak sekolah perlu memberikan informasi secara terbuka setiap kali muncul dugaan masalah keamanan makanan.

Publik tidak hanya membutuhkan slogan bahwa MBG aman. Publik membutuhkan bukti, pengawasan dan penjelasan ketika sesuatu berjalan tidak sesuai harapan.

Penutup

Viralnya makanan MBG yang tidak disentuh siswa di Tambusai Utara kembali menunjukkan bahwa program ini masih menghadapi persoalan kepercayaan publik.

Di saat bersamaan, dugaan gangguan kesehatan yang dialami 230 siswa di Pati membuat sorotan terhadap keamanan makanan MBG semakin kuat. Penyebab kasus Pati sendiri masih dalam penyelidikan dan belum dapat dipastikan berasal dari MBG.

Kini pertanyaannya bukan sekadar “Stop MBG atau lanjutkan?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa transparan pemerintah membuka hasil pemeriksaan dan seberapa serius sistem pengawasan MBG memastikan makanan yang sampai ke tangan anak-anak benar-benar aman?

Bagaimana menurut Anda, apakah MBG perlu dihentikan sementara di daerah yang muncul dugaan kasus sampai hasil pemeriksaan keluar?

Kategori :