PASANGKAYU, BACAKORAN.CO – Kaki seribu ditemukan dalam menu MBG Pasangkayu dan langsung memicu perbincangan ramai di X/Twitter.
Temuan tersebut terjadi pada makanan yang didistribusikan SPPG Lariang di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Yang membuat publik lega, makanan tersebut disebut belum sempat dikonsumsi ketika benda asing itu ditemukan.
Unggahan akun RL (@RA_leather) pada Jumat, 11 September 2026, kemudian menjadi salah satu pemicu percakapan. Dalam unggahan tersebut disebutkan BGN Sulawesi Barat menonaktifkan dapur SPPG Lariang setelah temuan kaki seribu pada menu sayur urap.
BACA JUGA:MBG Madiun Bikin Twitter Geram, Puluhan Siswa Diduga Keracunan
Kaki Seribu Ditemukan Sebelum Makanan Dimakan
Kasus ini bermula dari temuan seekor kaki seribu dalam wadah makanan yang berisi sayuran.
Video temuan tersebut sebelumnya beredar di media sosial. Laporan media menyebut makanan itu merupakan bagian dari program makan bergizi yang didistribusikan SPPG Lariang di Kecamatan Lariang.
Dalam rekaman yang beredar, kaki seribu terlihat berada di dalam wadah makanan dan bercampur dengan sayuran.
Belum ada laporan bahwa makanan tersebut sempat dikonsumsi setelah benda asing ditemukan. Karena itu, kasus ini berbeda dengan kejadian dugaan keracunan yang menyebabkan penerima MBG mengalami gangguan kesehatan.
BACA JUGA:230 Siswa SMPN 1 Gembong dan MTsN 3 Pati Tumbang Usai Santap MBG, Dinkes Investigasi
Postingan X Jadi Pemicu Perdebatan
Akun @RA_leather mengunggah informasi tersebut dengan narasi yang cukup keras.
“Temuan Kaki Seribu di Menu MBG Pasangkayu! BGN Sulbar resmi menonaktifkan dapur SPPG Lariang.”
Unggahan itu kemudian mendapatkan respons dari sejumlah pengguna X.
Sebagian besar komentar mempertanyakan bagaimana hewan tersebut bisa masuk ke dalam makanan yang akan dibagikan kepada masyarakat.
Perhatian warganet pun bergeser dari sekadar temuan hewan ke persoalan standar kebersihan dan pengawasan dapur SPPG.
BACA JUGA:BGN Larang Minuman Rasa Susu dan Susu Kental Manis Masuk Menu MBG
Warganet Pertanyakan Kinerja SPPG
Salah satu komentar datang dari akun @DuasdaKubelimas.
Ia mempertanyakan kinerja SPPG dan bahkan mengaitkannya dengan dugaan korupsi.
Namun, tuduhan tersebut merupakan opini pribadi warganet dan tidak disertai bukti dalam percakapan yang tersedia.
Komentar seperti ini menunjukkan bagaimana satu temuan benda asing dapat berkembang menjadi kritik yang lebih luas terhadap tata kelola program MBG.
Ada Warganet yang Menyoroti Bahaya Kaki Seribu
Komentar lain datang dari akun @MaryonoRamadh17.
Ia menyebut kaki seribu memiliki racun dan dapat menyebabkan mual serta muntah jika tertelan.
Pernyataan tersebut perlu disikapi hati-hati.
Temuan kaki seribu memang menjadi persoalan kebersihan makanan. Namun, tidak tepat menyimpulkan makanan tersebut beracun atau pasti menyebabkan keracunan hanya berdasarkan keberadaan kaki seribu.
Apalagi makanan dalam kasus Pasangkayu dilaporkan belum sempat dikonsumsi.
BACA JUGA:136 Siswa SMAN 1 Tunjungan Blora Diduga Keracunan MBG, Satgas Usulkan SPPG Sukorejo 2 Ditutup
“Bagaimana Bisa Masuk ke Makanan?”
Komentar dari akun @diktumid jauh lebih singkat.
“Astaghfirullah, ini gimana ceritanya ????♂️”
Sementara akun @kannajaisah_182 meminta pengelola dapur lebih teliti.
Dua respons tersebut mewakili kelompok warganet yang lebih fokus pada pertanyaan sederhana: bagaimana benda asing tersebut bisa lolos dari proses pengolahan hingga masuk ke dalam wadah makanan?
Pertanyaan itu menjadi penting karena keamanan pangan tidak hanya ditentukan oleh bahan makanan.
Proses pencucian, pemotongan, pengolahan, pemasakan, pengemasan, hingga pemeriksaan akhir juga menjadi bagian penting dari rantai keamanan pangan.
BACA JUGA:Anak Keracunan MBG Karo, Asap rokok Jadi yang Disalahkan?
Sindiran Warganet Ikut Bermunculan
Komentar lain membandingkan persoalan MBG di Indonesia dengan makanan di negara lain.
Akun @JohnAarivEd menulis sindiran terkait kebiasaan masyarakat yang sering mengejek makanan India. Menurutnya, persoalan MBG Indonesia juga tidak seharusnya dianggap remeh.
Komentar tersebut menunjukkan pola yang umum terjadi di media sosial.
Ketika muncul persoalan pada program pemerintah, warganet tidak hanya membahas kejadian utama. Percakapan sering melebar menjadi perbandingan, kritik kebijakan, hingga evaluasi terhadap pengelola program.
Bukan Kasus Keracunan, tetapi Tetap Serius
Satu hal penting perlu digarisbawahi.
Temuan kaki seribu di makanan bukan berarti telah terjadi keracunan.
Dalam kasus Pasangkayu, laporan media menyebut benda asing ditemukan sebelum makanan dikonsumsi. Belum ada laporan korban mengalami gangguan kesehatan akibat menu tersebut.
Namun, dari perspektif keamanan pangan, temuan tersebut tetap serius.
Sebab, jika benda asing dapat masuk ke dalam makanan dan tidak terdeteksi sebelum distribusi, maka proses pengawasan kualitas perlu dievaluasi.
SPPG Lariang Pernah Masuk Daftar Penghentian Sementara
Kasus ini juga menarik perhatian karena SPPG Lariang bukan nama yang sama sekali baru dalam catatan pengawasan di Pasangkayu.
Pada April 2026, SPPG Lariang termasuk salah satu dari 10 dapur SPPG di Kabupaten Pasangkayu yang dihentikan sementara sambil menunggu pemeriksaan sampel makanan dan air.
Penghentian sementara saat itu disebut berkaitan dengan pengawasan standar higienitas dan kelayakan pangan.
Namun, fakta tersebut tidak otomatis membuktikan adanya hubungan antara penghentian sebelumnya dan temuan kaki seribu pada September.
Keduanya harus dipisahkan sampai ada keterangan resmi yang menjelaskan hubungan atau hasil evaluasinya.
Opini Publik Mulai Bergeser ke Pengawasan
Jika melihat komentar di X, terlihat pola opini yang cukup jelas.
Warganet tidak hanya bertanya soal “ada apa di dalam makanan?”
Pertanyaan berikutnya adalah “siapa yang mengawasi?”
Inilah yang membuat temuan sederhana berupa benda asing dapat berkembang menjadi isu tata kelola program MBG.
Publik menginginkan makanan yang dibagikan bukan hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga aman, bersih dan layak konsumsi.
Evaluasi Dapur Jadi Sorotan
Laporan media menyebut belum ada keterangan resmi dari pengelola SPPG terkait temuan tersebut ketika berita pertama diterbitkan. Penelusuran lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui bagaimana kaki seribu bisa berada dalam makanan dan pada tahapan mana pengawasan gagal mendeteksinya.
Evaluasi idealnya mencakup seluruh rantai produksi.
Mulai dari bahan baku, proses pencucian sayuran, pengolahan, kebersihan area dapur, penyimpanan, pengemasan hingga pemeriksaan sebelum makanan didistribusikan.
Kesimpulan
Temuan kaki seribu dalam menu MBG Pasangkayu menjadi viral setelah video dan unggahan di media sosial beredar.
Makanan tersebut dilaporkan belum sempat dikonsumsi ketika hewan ditemukan. Karena itu, kasus ini belum dapat disebut sebagai kejadian keracunan.
Meski begitu, temuan tersebut tetap menjadi alarm bagi pengelola dapur SPPG.
Komentar warganet memperlihatkan satu tuntutan yang sama: pengawasan keamanan pangan harus lebih teliti, terutama karena makanan tersebut diperuntukkan bagi masyarakat dan anak-anak.
Pada akhirnya, publik tidak hanya membutuhkan makanan bergizi. Mereka juga membutuhkan jaminan bahwa makanan tersebut aman sebelum sampai ke tangan penerima.
Bagaimana menurut Anda? Apakah temuan kaki seribu ini cukup menjadi alasan untuk memperketat pengawasan seluruh dapur SPPG?