Harga Minyak Dunia Naik Akibat Konflik Geopolitik, Pertamax Berpotensi Tembus Rp 20.000 per Liter

Sabtu 12 Sep 2026 - 08:29 WIB
Reporter : Deby Tri
Editor : Deby Tri

Lonjakan harga dipicu meningkatnya serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah.

BACA JUGA:Pramono Targetkan 6.500 Km Kabel Semrawut Jakarta Masuk Bawah Tanah dalam 5 Tahun, Libatkan Swasta

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serta aksi kelompok Houthi yang didukung Iran, membuat lalu lintas pelayaran terbatas.

Pasar khawatir gangguan pasokan akan berlangsung lebih lama.

Eko berharap harga minyak dunia bisa kembali turun ke level 60-70 dollar AS per barel seperti sebelum krisis geopolitik memanas.

“Saya enggak tahu, katanya hari ini harga dunia BBM juga sedang naik lagi dibandingkan, jadi kalau berharap turun 70 dollar per barrel seperti atau 60 dollar per barrel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera,” katanya.

Namun, ia mengakui belum ada indikasi kuat penurunan dalam waktu dekat.

BACA JUGA:MBG Madiun Bikin Twitter Geram, Puluhan Siswa Diduga Keracunan

“Karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisaran antara di angka 18 ribu sampai 20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia,” tegas Eko.

Saat ini Pertamina telah menaikkan beberapa produk nonsubsidi pada awal September 2026, seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Pertamax (RON 92) masih dipertahankan di level Rp 15.950 per liter di banyak wilayah.

Namun, tekanan biaya impor dan harga minyak acuan yang tinggi membuat ruang untuk mempertahankan harga semakin sempit.

Jika harga minyak bertahan di atas 100 dollar AS per barel dalam waktu lama, formulasi harga BBM nonsubsidi akan mendorong penyesuaian.

Dampaknya tidak hanya pada Pertamax, tetapi juga produk lain seperti Dexlite dan Pertamina Dex yang sudah lebih mahal.

Kategori :