bacakoran.co

Israel Tawarkan Gencatan Senjata Baru, Hamas Tolak Syarat Pelucutan Senjata, Tuntut Ini!

Israel tawarkan gencatan senjata baru di Jalur Gaza dengan syarat wajib pelucutan senjata, namun Hamas menolak syarat itu dan menuntut akhiri perang.--istimewa

Nunu pun menegaskan dalam pembicaraannya dengan mediator Mesir dan Qatar, jika Hamas tidak akan menyerahkan senjata.

Isi Tawaran Israel

BACA JUGA:Hamas Akhirnya Mau Lepas Seluruh Sandera, Tapi Ada 'Harga' yang Harus Dibayar Israel!

BACA JUGA:Hamas Bebaskan 3 Sandera Israel, Israel Lepas 369 Tahanan Palestina! Begini Kronologinya

Dalam proposal yang diajukan, Israel dikabarkan ingin Hamas membebaskan separuh dari sandera dalam minggu pertama, gencatan senjata berlaku selama 45 hari, dan bantuan kemanusiaan mulai kembali masuk ke Gaza.

Lalu Hamas dan seluruh faksi bersenjata di Gaza wajib melucuti senjata untuk mengakhiri perang

Namun poin terakhir itu menjadi batu sandungan utama.

Hamas menilai pelucutan senjata sama saja dengan menyerah sepenuhnya, sesuatu yang mereka tolak keras.

BACA JUGA:Palestina Bersatu! Hamas-Fatah Kompak Tolak Trump Relokasi Warga Gaza

BACA JUGA:Kebakaran Besar di Tel Aviv Hingga 12 Ribu Tentara Israel Sekarat, Benarkah Hamas Makin Ganas?

Krisis Kemanusiaan Makin Parah

Sementara perundingan alot terus berlangsung, kondisi kemanusiaan di Gaza kian memburuk.

PBB menyebut situasinya sebagai yang “terparah” dalam 18 bulan terakhir.

Kekurangan bahan pokok, air bersih, bahan bakar, hingga pasokan medis membuat rumah-rumah sakit lumpuh.

BACA JUGA:Setelah Sinwar, Kini Komandan Al Qassam Deif Dipastikan Tewas! Strategi Israel Hancurkan Hamas Kian Nyata?

Israel Tawarkan Gencatan Senjata Baru, Hamas Tolak Syarat Pelucutan Senjata, Tuntut Ini!

Ramadhan Evrin

Ramadhan Evrin


bacakoran.co - ketegangan di kembali memanas usai israel mengajukan tawaran selama 45 hari.

sebagai gantinya, hamas diminta membebaskan separuh dari sandera yang masih ditahan dan melucuti seluruh persenjataan mereka.

namun, hamas langsung memberikan respons tegas.

seperti dilansir dari afp rabu (16/4/2025), seorang pejabat hamas menyebut tuntutan israel sebagai ‘garis merah yang tak bisa dilewati’.

proposal pelucutan senjata disebut sebagai syarat mutlak bagi perdamaian permanen, namun hamas menolaknya mentah-mentah.

“senjata perlawanan adalah prinsip yang tidak bisa dinegosiasikan,” ujar pejabat hamas tersebut.

hamas: bukan soal jumlah sandera, tapi soal janji yang dilanggar

menurut hamas, bukan jumlah sandera yang jadi persoalan utama, tetapi kelalaian israel dalam menepati kesepakatan.

“masalahnya bukan berapa banyak tawanan yang dibebaskan, tapi fakta bahwa israel terus mengingkari komitmennya dan tetap melanjutkan perang,” ujar juru bicara senior hamas, taher al-nunu.

hamas bahkan menyatakan jika pembebasan sandera bisa saja dilakukan, asalkan ada jaminan israel benar-benar mengakhiri perang.

nunu pun menegaskan dalam pembicaraannya dengan mediator mesir dan qatar, jika hamas tidak akan menyerahkan senjata.

isi tawaran israel

dalam proposal yang diajukan, israel dikabarkan ingin hamas membebaskan separuh dari sandera dalam minggu pertama, gencatan senjata berlaku selama 45 hari, dan bantuan kemanusiaan mulai kembali masuk ke gaza.

lalu hamas dan seluruh faksi bersenjata di gaza wajib melucuti senjata untuk mengakhiri perang

namun poin terakhir itu menjadi batu sandungan utama.

hamas menilai pelucutan senjata sama saja dengan menyerah sepenuhnya, sesuatu yang mereka tolak keras.

krisis kemanusiaan makin parah

sementara perundingan alot terus berlangsung, kondisi kemanusiaan di gaza kian memburuk.

pbb menyebut situasinya sebagai yang “terparah” dalam 18 bulan terakhir.

kekurangan bahan pokok, air bersih, bahan bakar, hingga pasokan medis membuat rumah-rumah sakit lumpuh.

di rs nasser, khan yunis, tim medis disebut bekerja siang malam dalam kondisi darurat total.

“kami kekurangan segalanya,” kata dr. ahmed al-farah.

amerika serikat disebut ikut campur

menurut media israel ynet, as disebut menawarkan jaminan negosiasi lanjutan jika hamas bersedia membebaskan 10 sandera pertama.

namun belum ada kesepakatan resmi yang dicapai.

Tag
Share