bacakoran.co - setengah tahun sudah berlalu, tapi penyaluran masih rendah, seolah jalan di tempat.
pemerintah pun akhirnya buka suara soal seretnya penyaluran bansos tahun 2025 yang masih jauh dari harapan.
hingga pertengahan tahun ini, baru rp48,8 triliun dana bansos yang cair--alias cuma 32,6% dari total .
padahal, di periode yang sama tahun lalu, jumlah yang tersalur jauh lebih tinggi, yaitu rp70,9 triliun atau 46,3% dari anggaran.
apa yang bikin bansos seret?
wakil menteri keuangan suahasil nazara membongkar sejumlah penyebab di balik rendahnya serapan bansos.
dalam konferensi pers apbn kita, ia menyebut banyak bansos memang dijadwalkan turun per kuartal, bukan bulanan.
“beberapa bantuan sudah disalurkan di maret-april. sisanya memang baru dijadwalkan untuk cair di juni dan juli,” ujar suahasil.
namun bukan cuma soal jadwal.
ada ‘biang kerok utama’ lainnya yang bikin dana bansos tertahan: perombakan besar-besaran pada data penerima.
pemerintah ‘bersih-bersih’ data
pemerintah saat ini sedang beralih dari data terpadu kesejahteraan sosial (dtks) ke sistem data terbaru bernama dtsen (data terpadu sosial ekonomi nasional).
akibatnya, proses verifikasi ulang membuat penyaluran bansos tersendat.
menteri sosial saifullah yusuf (gus ipul) pun mengakui adanya dampak dari transisi data ini.
“ada 1,9 juta keluarga lama yang dicoret, dan digantikan oleh 1,9 juta kpm baru yang lebih layak menerima. tapi mereka belum bisa langsung menerima karena harus buka rekening dulu,” jelas gus ipul.
kapan dana bansos turun?
fenomena keterlambatan ini bikin banyak masyarakat bertanya-tanya, kenapa bansos tak kunjung cair?
pemerintah memastikan jika kartu sembako dan pkh triwulan ii akan dituntaskan pencairannya di bulan juni ini.
namun tetap saja, kondisi ini memicu keresahan.
apalagi, bansos kerap jadi penyelamat masyarakat menengah bawah di tengah tekanan ekonomi pasca pandemi dan inflasi pangan yang masih tinggi.