bacakoran.co -- seorang siswi sumatera selatan berinisial mz diduga dianiaya dengan cara dijambak, diinjak dan dipukuli oleh cc (15), salah satu siswi di kota itu.
peristiwa atau perundungan itu terjadi sabtu sore 12 juli 2025 di halaman sd negeri 29, kota lubuklinggau.
mirisnya,vidio aksi kekerasan ini direkam dan kemudian diunggah ke media sosial hingga membuat korban dan keluarganya semakin terpukul.
tak terima anaknya dianiaya dan di bully, orang tua mz didampingi kuasa hukumnya febri habibi asril, senin 21 juli 2025 melaporkan permbuatan pelaku ke polres lubuklinggau dan tercatat dalam laporan lp/b-247/vii/2025/spkt/polres lubuklinggau/polda sumatera selatan.
kepada sejumlah media febri habibi asril menjelaskan bahwa beberapa waktu lalu, orang tua korban mz heran dengan perubahan sikap putrinya yang menjadi pendiam dan murung.
beberapakali ditanya mz tak mau cerita bahkan kemudian minta pindah sekolah ke pondok pesantren dan pada senin 14 juli 2025, korban tidak berani pergi ke sekolah .
"orang tua korban baru mengetahui adanya tindak kekerasan terhadap putrinya mz pada 17 juli 2025, setelah melihat video viral di media sosial seorang siswi memukuli siswi lainnya yang tak lain adalah korban mz,” jelas febri habibi azril usai mendampingi orang tua korban melapor ke polisi.
dalam video aksi bullying yang beredar, tampak korban mz yang mengenakan pakaian pramuka, sedangkan pelaku cc mengenakan pakaian hitam.
informsinya, keduanya berada di lokasi kejadian di sd negeri 29 lubuklinggau karena korban mz sebelumnya mengirimkan pesan kepada cc untuk bertemu di tempat itu. mz mengatakan hendak meminta maaf karena ada kesalapahaman.
namun saat meminta maaf, tetapi rekan-rekan cc justru memprovokasi dan meminta agar cc memukuli mz.
cc tampak menjambak rambut mz, kemudian memukulinya tanpa henti. bahkan korban mz sampai harus merangkak. bukan hanya dipukuli, bahkan kepala mz beberapa kali ditendang oleh cc.
tentu saja melihat vidio anaknya dianiaya, perasaan orang tua mz menjadi marah, sedih dan ikut trauma. kemudian keluarga korban sepakat untuk membawa persoalan ini ke ranah hukum.
"diduga mz juga diancam agar tidak buka mulut, dan pasca kejadian, korban mz mengalami trauma berat dan tidak berani menceritakan apa yang terjadi kepada keluarganya,"jelas feberi. “korban diancam akan dibunuh jika mengadu ke orang tua,” katanya.
setelah korban mz divisum, dijelaskan febri jika ada pertemuan anatara keluarga mz dan keluarga cc yang dimediasi pihak sekolah. namun setelah itu, tidak ada lagi respon dari pihak keluarga pelaku.
"memang ada permohonan maaf dan ada perdamaian, namun proses hukum harus tetap berjalan,"katanya.