bacakoran.co - di pasaran indonesia, banyak merek dalam kemasan (amdk) yang menyematkan slogan bersumber dari mata air pegunungan, alami dari ketinggian, atau kering dari lereng gunung.
bagi konsumen, klaim seperti ini tentu menggugah bayangan yang mengalir bebas dari celah batuan di gunung tinggi, bebas polusi, kaya mineral sangat menggoda.
namun kini, muncul fakta bahwa tidak semua klaim semacam itu bisa dibuktikan sepenuhnya.
fakta terbaru pengawasan & temuan
beberapa hari lalu, muncul laporan yang cukup mengejutkan sejumlah perusahaan amdk akhirnya diminta membuka secara rinci asal mereka.
komisi vii dpr ri bersama kementerian perindustrian republik indonesia menanyakan secara terbuka kepada 8 produsen terkait asal‑sumber air mereka.
contohnya:
- le minerale mengklaim bahwa mereka benar‑benar menggunakan air dari pegunungan vulkanik terpilih seperti gunung salak, gunung pangrango, dan gunung mandalawangi.
- namun, kasus lain: untuk merek aqua, ditemukan indikasi bahwa sebagian sumber air yang dipakai adalah sumur bor atau air tanah dalam, bukan secara jelas dari mata air pegunungan sebagaimana slogan kampanyenya.
jadi, inti masalahnya: klaim dari pegunungan bisa benar tapi juga bisa saja dipertanyakan.
konsumen punya hak untuk menuntut transparansi.
mengapa sumber air pegunungan dipakai untuk pemasaran?
- air mata pegunungan dianggap lebih murni, karena aliran alami dari batuan, tekanan gravitasi, dan filtrasi batuan.
- label air pegunungan memberikan nilai emosional terkesan premium, sehat, alami, bebas polusi.
- dokumen riset pun menunjuk bahwa air mineral alami (bersumber dari mata air atau sumur dalam terlindungi) harus memenuhi standar tertentu agar bisa diklaim demikian.
dengan kata lain jika benar, maka sumbernya memang bisa jadi nilai plus besar.
tapi jika hanya kampanye, maka konsumen berpotensi tertipu.
bagaimana konsumen bisa mengecek klaim “asli dari pegunungan”?
berikut beberapa tips yang bisa anda terapkan:
1. periksa label kemasan: apakah tercantum asal mata air dan lokasi geografis?
sebagai contoh, le minerale menyebutkan lokasi sumbernya secara spesifik.
2. cari bukti sertifikasi atau hasil uji: apakah produsen menyampaikan studi hidrogeologi, isotop, atau geologi yang membuktikan sumber mereka.
sejumlah perusahaan memang melakukan studi semacam ini.
3. perhatikan wording kampanye: bila hanya tertulis dari pegunungan, tanpa detail, tetap ada ruang keraguan.
bila tertulis mata air pegunungan di kaki gunungnya, maka lebih konkret.
4. waspadai klaim berlebihan: misalnya 100% dari peg unungan tertinggi, tanpa menyebut nama atau bukti bisa saja hanya gimmick pemasaran.
5. cek sejarah dan reputasi perusahaan: perusahaan yang transparan cenderung mempublikasi lokasi dan data sumber air.
sebaliknya, yang tidak konsumen harus lebih kritis.
kenapa ini penting untuk kita?
dari sudut konsumen anda berhak tahu apa yang anda minum.
jangan hanya terpikat slogan, namun tidak tahu asal dan proses pengolahannya.
dari sisi industri dan lingkungan jika sumber air diklaim pegunungan namun sebenarnya justru pengambilan sumur bor tanpa pengelolaan, bisa menimbulkan masalah lingkungan dan menurunkan kepercayaan publik.
klaim air mineral asli dari pegunungan memang terdengar sangat menarik namun tidak semua klaim itu otomatis benar bulat.
beberapa brand telah membuktikan dengan data dan transparansi, namun ada pula yang masih membuat konsumen bertanya‑tanya.
sebagai konsumen yang cerdas, kita bisa mulai membiasakan memeriksa label, mencari bukti, dan memilih berdasarkan fakta, bukan hanya janji atau slogan.
dengan begitu, kita tak hanya mendapatkan air minum yang segar dan sehat namun juga mendapatkan nilai transparansi dan kejujuran dari produsen.