Mengenal Somaliland, Negara yang Baru Diakui Israel dan Dampaknya bagi Politik Afrika
Mengenal Somaliland, wilayah di Afrika Timur yang baru diakui Israel. Simak sejarah, posisi strategis, dan dampak politik pengakuan tersebut.--
BACAKORAN.CO - Nama Somaliland kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah Israel secara resmi mengakui kemerdekaan dan kedaulatan wilayah tersebut pada Jumat, 26 Desember 2025.
Langkah ini langsung memicu perbincangan global karena berpotensi mengubah peta politik di kawasan Tanduk Afrika, sekaligus memanaskan hubungan diplomatik dengan Somalia yang selama ini menolak keras pemisahan Somaliland.
Pengakuan Israel terhadap Somaliland menjadi momen bersejarah, mengingat wilayah ini selama lebih dari tiga dekade telah berdiri sebagai entitas pemerintahan sendiri, namun belum diakui oleh negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dilansir dari laporan Reuters, keputusan Israel ini dinilai strategis dan sarat kepentingan geopolitik.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara langsung menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi, yang juga dikenal dengan nama Abdirahman Cirro.
Netanyahu memuji kepemimpinan Presiden Somaliland dan mengundangnya untuk melakukan kunjungan resmi ke Israel.
Tidak hanya itu, Israel juga menyatakan kesiapan untuk menjalin kerja sama di berbagai sektor penting, seperti pertanian, kesehatan, teknologi, hingga ekonomi.
Langkah ini dianggap sebagai sinyal bahwa Somaliland mulai dilihat sebagai mitra potensial, terutama karena posisinya yang strategis di jalur perdagangan global.
BACA JUGA:KPK Setop Kasus Korupsi Nikel Rp2,7 Triliun di Konawe Utara, Eks Pimpinan KPK: Tak Layak Dihentikan!
Letak Strategis Somaliland
Somaliland terletak di kawasan Afrika Timur, tepatnya di sepanjang Teluk Aden, dekat dengan pintu masuk Selat Bab al-Mandeb.
Selat ini merupakan salah satu jalur laut terpenting di dunia karena hampir sepertiga pelayaran globalmelewati kawasan tersebut.
Secara geografis, Somaliland berbatasan dengan Ethiopia di bagian selatan dan barat, serta Djibouti di barat laut.
Luas wilayahnya mencapai sekitar 177.000 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk sekitar 5,7 juta jiwa berdasarkan data per Januari 2024.
Posisi geografis inilah yang membuat Somaliland memiliki nilai strategis tinggi dalam konteks perdagangan, keamanan maritim, dan stabilitas regional.
Awalnya, Somaliland merupakan protektorat Inggris sebelum akhirnya bergabung dengan Somalia pada tahun 1960.
Namun, penyatuan ini tidak berjalan mulus.
Banyak warga Somaliland merasa terpinggirkan akibat sentralisasi kekuasaan yang berpusat di wilayah selatan Somalia.
Ketidakpuasan tersebut melahirkan Gerakan Nasional Somalia (SNM) pada 1980-an, yang menentang rezim militer Presiden Siad Barre, penguasa Somalia sejak 1969.
Konflik bersenjata pun pecah dan berujung tragedi kemanusiaan, di mana puluhan ribu warga Somaliland tewas dan infrastruktur hancur.
Pada Januari 1991, rezim Siad Barre tumbang. Namun, SNM menolak bergabung dengan pemerintahan sementara Somalia dan memilih jalur sendiri.
Pada Mei 1991, Somaliland secara sepihak mendeklarasikan kemerdekaan dengan Hargeisa sebagai ibu kota.
Proses pembangunan negara dilakukan secara bertahap, termasuk penyusunan konstitusi yang memakan waktu hampir satu dekade.
BACA JUGA:Balap Liar di Kalimalang Berujung Maut, Pemotor Tewas Usai Tabrak Pedagang Tahu Bulat
Pada tahun 2001, Somaliland menggelar referendum konstitusi yang disetujui secara mutlak oleh rakyatnya.
Referendum ini menandai transisi menuju demokrasi multipartai, sebuah pencapaian langka di kawasan yang kerap dilanda konflik.
Meski proses demokrasi Somaliland mendapat pujian dari pengamat internasional, hingga kini belum ada satu pun negara anggota PBB yang secara resmi mengakui kemerdekaannya—hingga Israel mengambil langkah berani tersebut.
Ironisnya, meskipun tidak diakui secara internasional, kondisi Somaliland jauh lebih stabil dibandingkan Somalia.
BACA JUGA:Mulai 8 Januari 2026, Makan Bergizi Gratis Kembali Hadir Serentak di Seluruh Indonesia!
Wilayah ini memiliki pemerintahan yang berfungsi, kepolisian sendiri, mata uang lokal, serta sistem politik yang relatif tertata.
Di bawah kepemimpinan Presiden Abdirahman Cirro, Somaliland terus berupaya memperkuat legitimasi internasional dan menjalin hubungan luar negeri, meskipun statusnya masih diperdebatkan.
Pengakuan dari Israel bisa menjadi titik awal perubahan besar, baik bagi Somaliland maupun dinamika politik di kawasan Afrika Timur.