bacakoran.co - pengelola satuan pelayanan pemenuhan gizi (sppg) karyasari yang berlokasi di kecamatan sukaresmi, kabupaten pandeglang, provinsi banten, akhirnya memberikan klarifikasi resmi terkait beredarnya sebuah video yang sempat viral di media sosial.
video tersebut memperlihatkan proses distribusi makanan dalam program makan bergizi gratis (mbg) yang disajikan menggunakan kantong plastik.
publik kemudian mempertanyakan mengapa makanan yang seharusnya didistribusikan dengan wadah standar justru terlihat dibagikan dengan cara yang dianggap kurang sesuai prosedur.
kepala sppg karyasari, dimas dhika alpiyan, menjelaskan bahwa peristiwa dalam video tersebut terjadi pada kamis, 8 januari.
pada hari itu, pihak sppg karyasari menyiapkan menu mbg khusus untuk kelompok penerima manfaat yang dikenal dengan istilah 3b, yaitu ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), serta balita.
kelompok ini memang menjadi prioritas utama dalam program mbg karena kebutuhan gizi mereka sangat penting untuk tumbuh kembang anak dan kesehatan ibu.
menurut dimas, seluruh makanan sebenarnya telah dipersiapkan dengan baik dan didistribusikan menggunakan ompreng, sesuai dengan standar operasional prosedur (sop) yang berlaku.
ompreng dipilih sebagai wadah resmi karena dianggap lebih aman, higienis, dan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh badan gizi nasional (bgn).
namun, setelah ompreng tiba di lokasi penerima manfaat, terjadi perubahan dalam cara penyajian.
salah seorang kader posyandu yang bertugas di lapangan memindahkan makanan dari ompreng ke dalam kantong plastik.
tindakan tersebut dilakukan tanpa koordinasi dengan pihak sppg dan jelas tidak sesuai dengan sop penyajian mbg.
“setelah ompreng tiba di tempat, oleh ibu kader makanan yang ada di dalam ompreng dipindahkan dan disatukan penyajiannya ke dalam kantong plastik. hal itu dilakukan karena ibu kader memiliki alasan spontanitas,” jelas dimas dalam keterangan resmi yang disampaikan pada sabtu, 10 januari.
dimas menambahkan, setelah makanan dipindahkan ke kantong plastik, kader posyandu kemudian membagikannya kepada para penerima manfaat, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
sementara itu, ompreng yang sudah kosong kemudian dibawa pulang kembali oleh sopir.
pihak sppg karyasari baru mengetahui kejadian tersebut keesokan harinya setelah menerima laporan mengenai potongan video yang beredar luas di media sosial.
video itu memperlihatkan makanan mbg yang disajikan menggunakan kantong plastik, sehingga menimbulkan berbagai spekulasi dan komentar dari masyarakat.
“setelah video tersebut viral, kami pihak sppg karyasari sukaresmi langsung mengundang para ibu kader untuk melakukan komunikasi lebih dalam.
pertemuan dilakukan pada jumat, 9 januari, pukul 09.00. dalam pertemuan itu, ibu kader memberikan klarifikasi bahwa mereka memang memasukkan menu ke dalam plastik karena keadaan spontanitas yang terjadi di lapangan,” kata dimas.
klarifikasi juga datang dari koordinator kader posyandu desa pasirkadu, kecamatan sukaresmi, yaitu lusi.
ia menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak seperti yang terlihat di video.
menurutnya, tindakan memindahkan makanan dari ompreng ke plastik dilakukan secara spontan karena kondisi cuaca saat itu tidak mendukung.
“perlu kami luruskan, bukan seperti yang terlihat di video itu. kejadiannya sangat spontan, ditambah cuaca saat itu tidak memungkinkan. akhirnya makanan kami pindahkan dari ompreng ke plastik semata-mata karena khawatir terkena air hujan,” jelas lusi.
meski demikian, badan gizi nasional (bgn) kembali menekankan bahwa penyajian makanan dalam program mbg wajib mengikuti sop yang telah ditetapkan.
penggunaan ompreng sebagai wadah distribusi bukan hanya sekadar aturan administratif, melainkan bagian dari upaya menjamin keamanan pangan, kebersihan, serta kualitas gizi bagi seluruh penerima manfaat.
bgn menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap sop, meskipun dilakukan secara spontan, tetap berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat dan bisa mengurangi kepercayaan terhadap program mbg.
dengan adanya klarifikasi ini, pihak sppg karyasari berharap masyarakat dapat memahami duduk perkara yang sebenarnya.
mereka menegaskan komitmen untuk terus menjalankan program mbg sesuai prosedur, serta memastikan bahwa setiap penerima manfaat mendapatkan makanan bergizi dengan cara yang aman, higienis, dan sesuai standar.