bacakoran.co

Rilis Memoar Broken Strings, Aurelie Moeremans Akui Pernah Jadi Korban Grooming Sejak Usia 15 Tahun

Aurelie Moeremans merilis memoar Broken Strings yang dapat dibaca melalui tautan di bio Instagram @aurelie.--INSTAGRAM/@aurelie

BACAKORAN.CO - Aurelie Moeremans kembali menjadi sorotan publik setelah merilis memoar berjudul Broken Strings yang mengungkap pengalaman pahitnya di masa remaja.

Keberanian Aurelie membuka kisah tersebut justru memunculkan gangguan baru dari pihak tertentu yang diduga merasa tersinggung oleh cerita yang ia bagikan.

Melalui memoar yang dibagikan secara gratis di media sosial pribadinya, Aurelie mengungkap bahwa dirinya pernah menjadi korban child grooming saat masih berusia 15 tahun.

Kisah tersebut ditulis dari sudut pandang korban, tanpa menyebut identitas pelaku, serta tanpa niat menyerang atau menghakimi siapa pun secara terbuka.

“Aku nulis buku tentang pengalaman aku mengalami kekerasan saat umur 15 tahun. Niatnya sederhana, berbagi, tanpa sebut nama, tanpa serang siapa pun,” tulis Aurelie dalam kolom komentarnya sendiri pada postingan Jumat (9/1/26).

BACA JUGA:Api Mengamuk Dini Hari! Puluhan Bangunan di Karawaci Tangerang Terbakar, 15 Unit Damkar Turun Tangan

BACA JUGA:Asrama LPK di Semarang Ludes Terbakar, Api Tiba-tiba Menghanguskan Seluruh Bangunan!

Namun, ia mengaku bahwa setelah buku tersebut dirilis, justru ada pihak yang merasa tersudut dan kembali mengganggunya.

Aurelie kemudian menegaskan bahwa gangguan tersebut datang dari orang yang merasa tersinggung oleh cerita yang sebenarnya tidak pernah menyebut nama siapa pun secara eksplisit.

“Lucunya, ada yang merasa, lalu malah ganggu aku lagi. Padahal caranya... justru berisiko buat dirinya sendiri. Selama ini aku memilih diam, tapi diam itu pilihan, bukan kewajiban. Dan setiap pilihan punya batas,” lanjutnya.

Ia menjelaskan bahwa selama ini dirinya memilih diam demi menjaga keselamatan dan ketenangan hidupnya, meskipun luka masa lalu tersebut tidak pernah benar-benar hilang.

Aurelie menilai bahwa keberanian untuk berbicara adalah bentuk perlindungan diri, bukan serangan terhadap pihak lain.

BACA JUGA:Gus Salam Pasang Badan! Pandji Pragiwaksono Dinilai Tak Layak Dipidana Ini Alasannya

BACA JUGA:Heboh! Materi Mens Rea Pandji Pragiwaksono Dilaporkan, Polda Metro Jaya Turun Tangan

Rilis Memoar Broken Strings, Aurelie Moeremans Akui Pernah Jadi Korban Grooming Sejak Usia 15 Tahun

Yudha IP

Yudha IP


bacakoran.co -  kembali menjadi sorotan publik setelah merilis memoar berjudul broken strings yang mengungkap pengalaman pahitnya di masa remaja.

keberanian aurelie membuka kisah tersebut justru memunculkan gangguan baru dari pihak tertentu yang diduga merasa tersinggung oleh cerita yang ia bagikan.

melalui memoar yang dibagikan secara gratis di media sosial pribadinya, aurelie mengungkap bahwa dirinya pernah menjadi saat masih berusia 15 tahun.

kisah tersebut ditulis dari sudut pandang korban, tanpa menyebut identitas pelaku, serta tanpa niat menyerang atau menghakimi siapa pun secara terbuka.

“aku nulis buku tentang pengalaman aku mengalami kekerasan saat umur 15 tahun. niatnya sederhana, berbagi, tanpa sebut nama, tanpa serang siapa pun,” tulis aurelie dalam kolom komentarnya sendiri pada postingan jumat (9/1/26).

namun, ia mengaku bahwa setelah buku tersebut dirilis, justru ada pihak yang merasa tersudut dan kembali mengganggunya.

aurelie kemudian menegaskan bahwa gangguan tersebut datang dari orang yang merasa tersinggung oleh cerita yang sebenarnya tidak pernah menyebut nama siapa pun secara eksplisit.

“lucunya, ada yang merasa, lalu malah ganggu aku lagi. padahal caranya... justru berisiko buat dirinya sendiri. selama ini aku memilih diam, tapi diam itu pilihan, bukan kewajiban. dan setiap pilihan punya batas,” lanjutnya.

ia menjelaskan bahwa selama ini dirinya memilih diam demi menjaga keselamatan dan ketenangan hidupnya, meskipun luka masa lalu tersebut tidak pernah benar-benar hilang.

aurelie menilai bahwa keberanian untuk berbicara adalah bentuk perlindungan diri, bukan serangan terhadap pihak lain.

dalam broken strings, aurelie menceritakan secara rinci bagaimana relasi yang awalnya tampak penuh perhatian perlahan berubah menjadi hubungan manipulatif dan penuh kontrol.

ia mengungkap bagaimana dirinya yang masih di bawah umur dikondisikan untuk bergantung secara emosional, hingga sulit melepaskan diri dari hubungan yang tidak sehat tersebut.

aurelie secara terbuka menyebut pengalaman grooming itu terjadi ketika dirinya belum memiliki pemahaman utuh tentang relasi yang aman dan setara.

“buku ini adalah kisah nyata tentang aku. tentang bagaimana aku digrooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku,” tulis aurelie melalui media sosialnya.

ia menjelaskan bahwa memoar tersebut tidak hanya memuat luka, tetapi juga proses panjang memahami manipulasi yang ia alami selama bertahun-tahun.

“tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri,” tulis aurelie. aurelie menambahkan, buku tersebut ditulis dari sudut pandangnya sebagai korban tanpa romantisasi. “ditulis tanpa romantisasi, dari sudut pandang korban,” ujar aurelie.

seiring meningkatnya perhatian publik terhadap isi memoar tersebut, kembali mencuat isu lama mengenai pernikahan yang disebut tidak pernah tercatat secara negara.

aurelie sempat mengunggah video saat dirinya bertanya kepada chatgpt mengenai status pernikahan, yang kemudian dipelintir untuk mengklaim hubungan tersebut sah.

nama musisi roby tremoti kembali menjadi perbincangan publik karena pernah dikabarkan memiliki hubungan pernikahan dengan aurelie pada 2011.

pernikahan tersebut disebut berlangsung tanpa kehadiran orang tua serta tanpa pencatatan resmi, sehingga keabsahannya menuai polemik berkepanjangan.

dalam unggahan lama di media sosial, aurelie mengaku bahwa pernikahan tersebut dijalani dengan rasa terpaksa dan disertai ancaman jika ia mencoba mengakhiri hubungan itu.

pengakuan tersebut kemudian diperkuat melalui isi memoar broken strings yang memuat gambaran kekerasan fisik dan mental yang ia alami.

meski diiringi kontroversi, memoar broken strings justru menuai dukungan luas dari masyarakat.

buku tersebut telah dibaca puluhan ribu kali dan mendapat banyak respons emosional dari pembaca yang merasa kisah aurelie mewakili pengalaman mereka.

aurelie berharap kisah yang ia bagikan dapat menjadi penguat bagi korban lain yang masih terjebak dalam hubungan manipulatif dan penuh tekanan.

keputusan membagikan buku ini secara gratis juga diambil agar ceritanya bisa menjangkau lebih banyak orang tanpa hambatan akses.

kini, aurelie mengabarkan bahwa versi cetak broken strings akan segera dirilis dengan pendekatan yang lebih menekankan makna pemulihan dibandingkan nilai bisnis semata. 

Tag
Share