bacakoran.co

Alih Fungsi Lahan Disorot Usai Longsor Cisarua! Dedi Mulyadi: Kawasan Ini Seharusnya Hutan

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meninjau lokasi longsor di Cisarua, Bandung Barat, Sabtu (24/1/2026).--Kompas.com

BACAKORAN.CO Bencana tanah longsor yang terjadi di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, menjadi sorotan serius Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan adanya alih fungsi lahan di lokasi kejadian yang diduga kuat menjadi salah satu faktor utama penyebab longsor.

Longsor yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari tersebut menimbun permukiman warga dan menelan korban jiwa.

Hingga proses evakuasi berlangsung, jumlah korban masih terus diperbarui oleh tim gabungan di lapangan.

Kondisi medan yang labil dan material longsor yang menumpuk menyulitkan proses pencarian korban.

BACA JUGA:Longsor di Cisarua Bandung Barat Timbun Puluhan Rumah, 6 Orang Tewas dan 84 Warga Masih Dicari

BACA JUGA:Pintu Air Manggarai Level Waspada! Muka Air Tembus 795 Cm Imbas Luapan Kali Ciliwung dan Hujan Deras

Dedi Mulyadi menyebut kawasan di sekitar lokasi longsor seharusnya merupakan wilayah hutan dengan vegetasi lebat.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan lahan tersebut telah beralih fungsi menjadi area perkebunan sayur dengan penggunaan plastik mulsa hingga ke puncak bukit.

"Faktornya sudah bisa kita lihat. Kebun sampai ke atas, pakai plastik. Ini jelas alih fungsi lahan," ucap Dedi saat ditemui di lokasi bencana, Sabtu (24/1/2026).

Menurut Dedi, penggunaan plastik mulsa di lahan berkontur miring menyebabkan hilangnya fungsi resapan air.

Kondisi tanah menjadi lebih mudah jenuh dan kehilangan daya ikat, sehingga rawan longsor saat hujan dengan intensitas tinggi. Hal ini dinilai memperparah tingkat kerusakan ketika bencana terjadi.

BACA JUGA:Sebelum Ditemukan Meninggal Dunia, Lula Lahfa Ungkap Sakit yang Diderita!

BACA JUGA:Pacar Reza Arap, Lula Lahfah Meninggal di Apartemen Dharmawangsa, Keluarga Tolak Visum, Ini Alasannya!

Alih Fungsi Lahan Disorot Usai Longsor Cisarua! Dedi Mulyadi: Kawasan Ini Seharusnya Hutan

Yudha IP

Yudha IP


bacakoran.co -  yang terjadi di kampung pasir kuning, desa pasirlangu, , kabupaten bandung barat (kbb), jawa barat, menjadi sorotan serius pemerintah provinsi jawa barat.

gubernur jawa barat dedi mulyadi mengungkapkan adanya alih fungsi lahan di lokasi kejadian yang diduga kuat menjadi salah satu faktor utama penyebab longsor.

longsor yang terjadi pada sabtu (24/1/2026) dini hari tersebut menimbun permukiman warga dan menelan korban jiwa.

hingga proses berlangsung, jumlah korban masih terus diperbarui oleh tim gabungan di lapangan.

kondisi medan yang labil dan material longsor yang menumpuk menyulitkan proses pencarian korban.

dedi mulyadi menyebut kawasan di sekitar lokasi longsor seharusnya merupakan wilayah hutan dengan vegetasi lebat.

namun, fakta di lapangan menunjukkan lahan tersebut telah beralih fungsi menjadi area perkebunan sayur dengan penggunaan plastik mulsa hingga ke puncak bukit.

"faktornya sudah bisa kita lihat. kebun sampai ke atas, pakai plastik. ini jelas alih fungsi lahan," ucap dedi saat ditemui di lokasi bencana, sabtu (24/1/2026).

menurut dedi, penggunaan plastik mulsa di lahan berkontur miring menyebabkan hilangnya fungsi resapan air.

kondisi tanah menjadi lebih mudah jenuh dan kehilangan daya ikat, sehingga rawan longsor saat hujan dengan intensitas tinggi. hal ini dinilai memperparah tingkat kerusakan ketika bencana terjadi.

dalam kunjungannya, dedi juga turun langsung membantu proses evakuasi korban bersama warga dan petugas gabungan.

ia menyampaikan bahwa kondisi tanah di lokasi kejadian sangat berbahaya karena masih berpotensi ambles.

“ada korban yang sedang tidur, tergulung kasur dan selimut, kemudian tertimpa batu dan pohon. itu yang membuat proses evakuasi menjadi sulit,” kata dedi.

sementara itu, suasana posko pengungsian di desa pasirlangu sempat dipadati warga saat dedi mulyadi datang untuk menyapa dan berdialog dengan para pengungsi.

berdasarkan data sementara, bencana longsor tersebut menyebabkan sejumlah warga meninggal dunia, puluhan lainnya selamat, serta ratusan jiwa terdampak dan harus mengungsi.

di hadapan para pengungsi, dedi menegaskan komitmen pemerintah provinsi jawa barat untuk merelokasi seluruh warga yang bermukim di sekitar lokasi longsor.

ia menilai kawasan tersebut sudah tidak layak huni karena tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi.

“warga di sini akan direlokasi, jangan tinggal di sini lagi. kemudian bantuan nanti untuk setiap kk yang anggota keluarganya meninggal dunia, kita siapkan rp25 juta,” ujar dedi.

selain relokasi dan pemberian santunan kepada keluarga korban, pemerintah provinsi jawa barat juga merencanakan langkah pemulihan lingkungan melalui program penghijauan dan reboisasi di kawasan terdampak longsor.

gubernur jawa barat dedi mulyadi menegaskan bahwa wilayah di kaki gunung burangrang seharusnya dikembalikan ke fungsi alaminya sebagai kawasan hutan dengan vegetasi berakar kuat yang mampu menahan pergerakan tanah.

menurut dedi, kondisi di lapangan menunjukkan adanya perubahan fungsi lahan yang signifikan.

area dengan tingkat kemiringan tinggi yang semestinya menjadi hutan rimbun justru dimanfaatkan sebagai perkebunan sayuran dengan penggunaan plastik mulsa.

“bisa dilihat, ini daerah kemiringan yang seharusnya hutan rimbun berubah menjadi perkebunan sayuran dan menggunakan plastik. daerah seperti ini tidak layak dijadikan kebun sayur. fungsi-fungsi alam harus dikembalikan,” jelasnya.

dedi juga mengakui bahwa meningkatnya frekuensi bencana alam di berbagai wilayah jawa barat tidak terlepas dari kesalahan tata ruang yang berlangsung selama bertahun-tahun.

kawasan rawan longsor, menurutnya, tidak semestinya dimanfaatkan untuk aktivitas pertanian intensif maupun permukiman.

pemerintah provinsi jawa barat menegaskan komitmennya untuk melakukan penataan ulang kawasan rawan bencana secara berkelanjutan.

tragedi longsor di cisarua diharapkan menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan tata ruang dan pengelolaan lingkungan guna mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.

Tag
Share