Israel Tewaskan 4 Orang di Rafah, Ketegangan Gencatan Senjata Gaza Kembali Menguat
israel tewaskan 4 orang di rafah, ketegangan gencatan senjata gaza kembali menguat--
BACA JUGA:Viral! Kasus 3 Remaja Penyiraman Air Keras di Jakarta Pusat, Diduga Pilih Korban Secara Acak
Namun, implementasi kesepakatan ini dinilai jauh dari mulus.
Israel menilai insiden Rafah sebagai bukti bahwa kelompok bersenjata masih aktif dan belum sepenuhnya mematuhi isi perjanjian.
Di sisi lain, Hamas berulang kali menegaskan bahwa perlucutan senjata merupakan “garis merah” yang tidak dapat ditawar dalam waktu dekat, meski mereka membuka kemungkinan penyerahan senjata kepada otoritas pemerintahan Palestina di masa depan.
Pejabat Israel mengklaim bahwa Hamas masih memiliki sekitar 20.000 petempur aktif dan menyimpan puluhan ribu senapan serbu jenis Kalashnikov di Jalur Gaza.
BACA JUGA:Tabrak Traffic Cone, Calon Pengantin Perempuan Tewas Terlindas Truk Box
Klaim ini menjadi dasar kekhawatiran Israel bahwa potensi konflik bersenjata masih sangat tinggi, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah disepakati secara internasional.
Di tengah situasi tersebut, pembentukan komite teknokrat Palestina yang bertugas mengambil alih pemerintahan sehari-hari di Gaza diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju stabilitas.
Namun hingga kini, belum ada kejelasan mengenai bagaimana komite tersebut akan menangani isu sensitif seperti demiliterisasi dan pengawasan senjata.
Insiden di Rafah menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian di Jalur Gaza masih panjang dan berliku.
Meski ada upaya diplomasi internasional dan tekanan dari berbagai pihak, ketidakpercayaan antara Israel dan Hamas tetap menjadi penghambat utama.
Selama isu keamanan, terowongan bawah tanah, dan persenjataan belum menemukan titik temu, gencatan senjata berpotensi terus diuji oleh insiden-insiden serupa.
Bagi warga sipil Gaza, kondisi ini menambah ketidakpastian atas masa depan mereka, di tengah harapan akan stabilitas dan pemulihan pascakonflik yang belum sepenuhnya terwujud.