Suami Pelit sama Istri? Zaman Nabi Ada Juga! Rasulullah SAW Langsung Nasehatin Ala Ustadz Felix Siauw
Masalah suami pelit terhadap istri bukan hanya terjadi sekarang di masa Rasulullah SAW pun sudah ada kasusnya, Seperti yang disampaikan Ustadz Felix Siauw.--Tiktok-@sh3f4ros2
BACAKORAN.CO - Masalah suami pelit terhadap istri bukan hanya terjadi di masa kini bahkan di zaman Rasulullah SAW pun sudah ada kasus serupa!
Sebagaimana disampaikan oleh Ustadz Felix Siauw, ada seorang perempuan pada masa Rasulullah yang mengadu karena suaminya sangat pelit dan tidak mau menafkahi dirinya.
Perkara ini bahkan menarik perhatian Rasulullah SAW yang langsung turun tangan memberikan nasihat.
Kisah ini tidak hanya mengingatkan akan pentingnya tanggung jawab suami terhadap istri, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana menghadapi masalah keuangan dalam rumah tangga sesuai ajaran Islam.
BACA JUGA:10 Ciri-Ciri Suami Pelit dan Perhitungan, Apakah Ada yang Cocok dengan Suamimu?
BACA JUGA:Suami Keras Hati & Pelit? Begini Amalannya Agar Dia Jadi Lembut dan Nurut
Menafkahi Istri adalah Kewajiban, Bukan Pilihan
Melansir dari video youtube @hikma247yt, Dalam ajaran Islam, menafkahi istri merupakan kewajiban mutlak yang harus dipenuhi oleh suami, bukan sesuatu yang bisa dipilih mau atau tidak.
Ketika seorang suami memilih untuk pelit dan tidak memenuhi kebutuhan dasar istri seperti makanan, tempat tinggal, dan pakaian, hal ini termasuk dalam kategori dosa.
Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya hal ini, karena kesejahteraan istri tidak hanya berdampak pada diri dia sendiri, tetapi juga pada keharmonisan seluruh rumah tangga dan perkembangan anak-anak.
BACA JUGA:Rahasia Melembutkan Hati Suami: 5 Langkah Ala Ustadz Hilman Fauzi yang Wajib Dicoba!
BACA JUGA:Wajib Coba! Amalan Agar Diberikan Suami yang Nurut dan Tidak Pelit
Seperti yang disampaikan dalam kisah dari masa Rasulullah, ketika perempuan tersebut mengadu tentang suaminya yang pelit, Rasulullah langsung memberikan nasihat kepada sang suami.
Pesan yang disampaikan sangat jelas: sebaik-baik harta yang dimiliki oleh seorang suami adalah yang dapat dinikmati oleh orang terdekatnya yaitu istri dan keluarganya.
Dengan demikian, menyediakan nafkah yang cukup bukan hanya kewajiban agama, tetapi juga bentuk cinta dan perhatian suami terhadap istri.