palembang, bacakoran.co – kasus kematian tragis safei (12) di sukabumi kini tengah diperjuangkan sang ibu kandung, lisnawati.
ia menilai kepergian putranya penuh kejanggalan karena ditemukan luka lebam, luka bakar, hingga tanda pendarahan di tubuh almarhum.
ibu kandung gugat keadilan
lisnawati menggandeng pengacara mira widyawati untuk mengawal kasus ini.
mira menegaskan bahwa lisnawati masih hidup, membantah kabar di media sosial yang menyebut sang ibu telah meninggal.
sejak lahir hingga usia 7 tahun, nizam tinggal bersama lisnawati.
namun, atas keputusan sang ayah, anwar satibi, ia kemudian dimasukkan ke pesantren di pandeglang.
hubungan lisnawati dan anwar disebut tidak harmonis, bahkan diwarnai dugaan kdrt sejak masa kehamilan.
dugaan penganiayaan
nizam diketahui tinggal bersama ayah dan ibu tirinya, tr (47).
dugaan penganiayaan mencuat setelah kondisi jenazah ditemukan penuh luka.
bahkan, sebelum meninggal, nizam sempat menunjuk ibu tirinya dan mengatakan dirinya dipukul serta dicekoki air panas.
mira menilai pernyataan spontan anak dalam kondisi kritis sulit dianggap rekayasa.
hal ini menjadi pintu masuk bagi penyidik untuk mendalami dugaan tindak pidana.
hasil forensik dan proses hukum
autopsi di rs bhayangkara sukabumi menunjukkan adanya luka lebam, luka bakar, serta pembengkakan organ dalam.
sampel organ korban telah dikirim ke laboratorium forensik pusat di jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut.
mira menegaskan kasus ini berpotensi masuk ranah undang-undang penghapusan kdrt.
ia juga menyinggung riwayat dugaan kekerasan sebelumnya yang sempat dilaporkan ke polisi namun berakhir mediasi.
firasat ibu kandung
dalam sebuah podcast bersama denny sumargo, lisnawati mengaku memiliki firasat bahwa mantan suaminya, anwar, turut terlibat.
ia mengingat masa lalu kelam penuh kdrt, bahkan saat mengandung nizam.
“dulu juga saya sering di-kdrt sama dia,” ungkap lisna.
lisnawati bersama kuasa hukum berkomitmen mengawal kasus ini hingga tuntas.
mereka berharap aparat bekerja profesional dan transparan agar kebenaran terungkap.
“kematian memang takdir, tetapi kondisi anak ini membuat ibunya syok berat. kami akan terus mencari keadilan,” tegas mira.