Tel Aviv Mencekam, Iran Kembali Kirim Rudal dan Bombardir Israel, Bangunan Rusak dan 6 Orang Luka-luka!
Dari serangan Bombardir Iran ini, terdapat sejumlah bangunan dan beberapa orang dinyatakan luka-luka.--DetikNews
BACAKORAN.CO - Iran kembali mewarnai Tel Aviv dengan serbuan bombardirnya setelah Amerika Serikat klaim dialog akhiri perang dengan Iran.
Dari serangan Bombardir Iran ini, terdapat sejumlah bangunan dan beberapa orang dinyatakan luka-luka.
Dilansir Anadolu Agency dan Al Jazeera, Selasa (24/3/2026), asap terlihat mengepul di atas Tel Aviv menyusul laporan serangan rudal Iran dan jatuhnya pecahan peluru, menurut Channel 12 Israel.
Empat lokasi yang terdampak telah diidentifikasi di seluruh kota, dengan 6 orang mengalami luka ringan, kata Zaki Heller, juru bicara layanan medis darurat, bencana, dan ambulans nasional Israel, atau Magen David Adom (MDA).
BACA JUGA:Iran Umumkan Kahar Stop Produksi Minyak Efek dari Tutupnya Selat Hormuz, Apa Maksudnya?
Sebelumya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump beri ultimatum terbaru kepada Iran dalam aksi penutupan Selat Hormuz.
Trump juga memberi waktu 48 jam kepada Iran untuk buka selat yang krusial bagi ekonomi dunia itu atau listrik Teheran akan padam.
Dilansir AFP, Minggu (22/3/2026), Donald Trump memberi Iran jangka waktu 48 jam untuk membuka Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran atau menghadapi penghancuran infrastruktur energinya.
"Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz, dalam waktu 48 JAM dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, DIMULAI DENGAN YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU!" tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
BACA JUGA:Iran Umumkan Kahar Stop Produksi Minyak Efek dari Tutupnya Selat Hormuz, Apa Maksudnya?
BACA JUGA:Konflik Makin Memanas, Donald Trump Kirim Pasukan Baru ke Iran dan Sebut NATO Pengecut, Kenapa?
Sejak AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup selat tersebut sebagai pembalasan.
Sebelumya Iran resmi menutup Selat Hormuz pada Maret 2026, yang menyebabkan produksi minyak di kawasan Teluk Persia anjlok hingga sekitar 7 juta barel per hari.