Ironi Kebijakan Penataan Pasar: 150 Karyawan Ritel di Lombok Tengah Kehilangan Pekerjaan: Makin Sulit...
Ironi Kebijakan Penataan Pasar: 150 Karyawan Ritel di Lombok Tengah Kehilangan Pekerjaan: Makin Sulit Bertahan Hidup Berat--Ist
Kondisi ini memicu alarm tanda bahaya bagi stabilitas ekosistem investasi di Indonesia.
BACA JUGA:Pidato RAPBN 2027 Prabowo: Rakyat Tak Bermimpi Kaya Raya, Cukup Bisa Makan
Kebijakan daerah yang dapat diterapkan secara selektif kapan saja menjadi preseden buruk bagi kepastian hukum pelaku bisnis. Investor tentu akan ragu menanamkan modal jika negara gagal memberikan perlindungan operasional usaha.
Ditambah lagi, dinamika ekonomi makro saat ini sedang kurang menguntungkan, dengan sentimen pelemahan rupiah yang disebut pengunggah mencapai angka Rp17.700, serta minimnya pertumbuhan lapangan kerja baru.
Gelombang empati dan kritik tajam terus mengalir dari para pengguna media sosial X menanggapi ironi nasib pekerja tingkat menengah ini.
Berikut adalah beberapa tanggapan yang terekam di kolom balasan:
"Yang bikin sedih tuh bukan cuma soal 25 gerai ditutup, tapi betapa gampangnya nasib ratusan pekerja dipertaruhkan atas nama “penataan”. Orang-orang ini bukan minta kaya, bukan minta fasilitas mewah cuma minta tetap bisa kerja di tengah kondisi ekonomi yang makin berat," tulis @prayforID.
BACA JUGA:Viral Video Juru Kunci, Ini Tujuan Sarwendah ke Gunung Kawi, Kuasa Hukum Patahkan Fitnah
"Presiden @prabowo @Gerindra @bang_dasco seharusnya KDMP ga matiin usaha lain suruh aja dapur MBG ambil seluruh kebutuhan di KDMP tanpa terkecuali," tulis @budi198282.
"Indon dari sebelumnya kapitalis murni, sekarang menuju komunisme murni. Semua bisnis dikuasai negara. Apa alasan yg layak dibenarkan dari ini? Kecuali emang rakus?," tulis @sushidigoreng.