bacakoran.co

Skandal Riset Palsu Demi Travel Grant, Rifaldy dan Tim Akhirnya Mengaku...

Manipulasi AI di Konferensi Internasional, Ini Klarifikasi Rifaldy--Twitter

Kelompok ini merasa terpukul dan tertekan secara mental karena merasa belum ada upaya tabayyun atau klarifikasi dua arah sebelum masalah ini disebarluaskan dengan masif ke publik.

BACA JUGA:Pemadaman Listrik Sumatra Makan Korban: 4 Warga Tewas Akibat Keracunan Asap Genset

Mereka memohon agar semua pihak dapat menyikapi persoalan ini dengan lebih bijak, menahan diri dari serangan personal dan tidak menggiring opini kebencian.

Skandal Riset Palsu Demi Travel Grant, Rifaldy dan Tim Akhirnya Mengaku...

Agus

Steve


bacakoran.co – dunia akademik kembali diguncang skandal memalukan terkait dugaan pada konferensi internasional.

sekelompok peneliti independen yang menamakan diri akhirnya merilis surat permohonan maaf terbuka setelah terbukti menggunakan kecerdasan buatan secara berlebihan dan mencatut afiliasi tanpa izin demi mendapatkan travel grant.

informasi ini mencuat dan menjadi perbincangan panas di media sosial x.

berdasarkan pantauan dari akun x milik pengguna dengan nama mmm atau @tegnelll, terdapat sebuah unggahan yang membongkar langkah lanjutan dari kelompok tersebut.

karena keterbatasan pada tangkapan layar, informasi mengenai tanggal pasti cuitan dan jumlah penayangan tidak tercantum secara spesifik, namun unggahan ini sukses mengungkap niat asli di balik partisipasi konferensi tim tersebut.

unggahan dari @tegnelll di platform x menyebutkan bahwa dokumen surat ini merupakan upaya ke-2 dari kelompok tersebut setelah upaya permohonan maaf awal dinilai publik sebagai langkah cuci tangan.

"mereka melakukan klarifikasi yg kedua kalinya setelah klarifikasi pertama dihapus karna terkesan tdk mengakui kesalahan". akun tersebut juga menyoroti kejanggalan lain dari kelompok ini yang merilis pernyataan lewat akun baru, dengan menyertakan kutipan alasan "karna akun sebelumnya di banned," tulisnya.

mengacu pada dokumen surat permohonan maaf resmi sebanyak 3 halaman yang beredar luas dengan tanda air bertuliskan rifaldy and team, kelompok ini secara terang-terangan dan tertulis mengakui niat awal mereka yang jauh dari semangat ilmu pengetahuan.

dalam dokumen tersebut, tertulis "kami memohon maaf bahwa partisipasi kami dalam konferensi memang bertujuan untuk memperoleh travel grant sekaligus kesempatan untuk bepergian ke luar negeri."

hal ini membenarkan kecurigaan banyak pihak bahwa partisipasi mereka di kancah internasional murni untuk mencari keuntungan finansial dan ajang jalan-jalan semata.

skandal ini menjadi jauh lebih parah ketika dokumen permohonan maaf tersebut juga membongkar berbagai praktik tidak etis yang melanggar standar transparansi akademik dalam penyusunan karya ilmiah.

rifaldy dan tim mengakui adanya manipulasi data.

"kami juga memohon maaf bahwa dalam beberapa abstrak dan presentasi terdapat penggunaan ai secara berlebihan dan tidak semestinya, termasuk kombinasi falsfying ai dalam proses penyusunan, framing, dan representasi penelitian," ungkap mereka dalam surat resmi tersebut.

tidak berhenti di situ saja, mereka juga secara sadar mencatut institusi resmi dan memanipulasi nama individu yang seolah-olah terlibat.

mereka menyatakan, "terkait afiliasi, kami memohon maaf bahwa beberapa institusi dicantumkan tanpa izin maupun keterlibatan resmi dari institusi terkait."

kelompok ini juga mengakui kesalahan fatal terkait presentasi di hadapan publik dengan menyebutkan, "adanya presentasi yang diwakili oleh satu orang untuk beberapa nama penulis sekaligus".

mereka menyatakan penyesalan mendalam dan berjanji menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran besar, serta menutup surat permohonan maaf tersebut dengan kalimat, "hormat kami, rifaldy dan tim".

oknum peneliti indonesia diduga manipulasi data demi liburan gratis, begini modus pelaku

skandal dugaan pemalsuan riset terorganisir oleh sekelompok oknum yang mengatasnamakan ilmuwan indonesia tengah menjadi sorotan tajam di kancah internasional.

kasus ini pertama kali meledak setelah terungkap dalam sebuah konferensi ilmiah bergengsi di kopenhagen, denmark.

kabar mengejutkan ini mulai mencuat ke publik melalui platform x dan thread.

akun pengguna bernama ardianto satriawan dengan nama pengguna ardisatriawan pada tanggal 25 mei 2026 membagikan sebuah utas yang langsung mendapatkan perhatian luas, mencapai 2,6 juta tayangan.

dalam cuitannya, ia menyoroti dugaan beberapa orang indonesia melakukan  riset terorganisir yang terungkap di konferensi ilmiah di denmark.

ardianto juga menegaskan bahwa kasus ini harus segera diselesaikan karena berpotensi mencoreng nama baik ilmuwan indonesia di mata internasional.

kronologi dan modus operandi pelaku

berdasarkan tangkapan layar utas dari pengguna x mandharabrasika yang dibagikan ulang oleh ardianto, terungkap berbagai kejanggalan dari penelitian tersebut.

sang penulis utas menyebutkan bahwa salah seorang pelaku bahkan melakukan pemalsuan identitas dengan berganti nama saat presentasi.

riset yang mereka bawa diklaim tidak masuk akal karena mencakup lokasi pengumpulan data dari berbagai belahan dunia seperti dataran tinggi ethiopia, guatemala, lebanon, yordania, bangladesh, sudan selatan, filipina, kenya, nepal, malawi, hingga india utara.

namun seluruh periset terpantau berasal dari indonesia tanpa ada satupun kolaborator setempat dan tanpa keterangan persetujuan etik.

institusi yang dicantumkan pun fiktif.

pelaku menggunakan nama afiliasi ai-biomedicine research group, imcds-biomed research foundation, jakarta, indonesia yang ternyata tidak dapat ditemukan riwayat keberadaannya secara sah.

pengakuan terkait penggunaan generasi buatan

akun mandharabrasika juga menceritakan momen saat ia mengonfrontasi langsung salah satu perwakilan tim bernama prihantini.

saat diminta menjelaskan grafik dan poster penelitiannya, yang bersangkutan kebingungan dan tidak bisa memberikan jawaban.

prihantini justru membuat pengakuan mengejutkan bahwa seluruh abstrak mereka di "generate" oleh pemimpin kelompok mereka yang bernama rifaldy fajar.

motif utama di balik tindakan curang ini diduga kuat untuk mendapatkan dana hibah perjalanan dari penyelenggara.

dengan memenangkan penghargaan para oknum ini bisa berangkat ke luar negeri secara gratis.

parahnya, bukti digital menunjukkan ini bukan kali pertama mereka beraksi.

dokumentasi foto memperlihatkan mereka pernah mendapatkan penghargaan serupa pada konferensi di taipei pada bulan september tahun 2025.

mengapa abstrak palsu bisa lolos seleksi internasional

pertanyaan teknis ini dijawab secara analitis oleh pengguna instagram w.o.d.d dalam kolom komentar yang membalas pengguna udapinto_ pada 14 jam sebelumnya.

terdapat 3 alasan utama yang menjadi celah keamanan sistem seleksi.

pertama, peserta hanya perlu mengirimkan abstrak berjumlah 250 hingga 300 kata untuk dinilai, bukan keseluruhan naskah metodologi riset secara utuh. kedua, konferensi standar internasional menerapkan sistem "blind review".

dalam sistem ini, para penilai sama sekali tidak mengetahui siapa penulis dan dari mana afiliasi asalnya.

semua identitas dihilangkan untuk menjaga objektivitas.

panitia selalu berasumsi bahwa setiap cendekiawan memiliki integritas luhur, yang sayangnya menjadi sebuah "loophole" atau celah kelemahan fatal.

ketiga, naskah abstrak yang dikirimkan oleh tim ini ditulis dengan gaya bahasa yang sangat meyakinkan.

mereka mengklaim melakukan studi skala besar di berbagai pusat layanan kesehatan global, melibatkan populasi rentan, serta menggunakan metode mutakhir yang masih jarang diteliti.

di atas kertas, abstrak berjumlah 200 hingga 300 kata tersebut pasti terlihat sangat luar biasa atau menonjol dibandingkan penelitian konvensional lainnya.

penilai tidak akan sampai ke tahap melakukan pengecekan silang keabsahan data mentah karena terbuai dengan premis riset yang tampak revolusioner.

klarifikasi dan pembelaan tim rifaldy

setelah gelombang kemarahan publik membesar, beredar sebuah surat pernyataan tertulis yang mengatasnamakan rifaldy and team.

dalam surat yang viral tersebut rifaldy menyatakan niatnya untuk meluruskan masalah.

namun, ia sangat menyayangkan tindakan warganet yang dinilai memperburuk keadaan dan sangat memengaruhi kondisi mental timnya.

ia menyebutkan bahwa akun media sosial milik rekannya, prihantini telah diretas oleh pihak tidak bertanggung jawab.

kelompok ini merasa terpukul dan tertekan secara mental karena merasa belum ada upaya tabayyun atau klarifikasi dua arah sebelum masalah ini disebarluaskan dengan masif ke publik.

mereka memohon agar semua pihak dapat menyikapi persoalan ini dengan lebih bijak, menahan diri dari serangan personal dan tidak menggiring opini kebencian.

Tag
Share