bacakoran.co

Diduga Milik Gubernur Maluku Utara, Tambang Nikel Hancurkan Hutan Suku Togutil hingga Keluar Minta Makan

Suku Togutil di Halmahera terancam punah akibat ekspansi tambang nikel di Pulau Gebe--Twitter/@independensumatera

Sherly Tjoanda, yang dikenal memiliki latar belakang bisnis tambang warisan suaminya, telah mengakui kepemilikan saham pasif di beberapa perusahaan.

Ia juga pernah mengunjungi Suku Togutil dan berjanji membangun hunian serta memberikan bantuan tanpa menghapus tradisi mereka.

Namun kritik tetap muncul karena adanya dugaan konflik kepentingan antara peran publik dan bisnis keluarga. 

BACA JUGA:Siapa Nayla Khansa Adreby Putri? Mahasiswi ITB yang Viral Usai Hina Bobotoh

Warga Menjerit! Benarkah Tambang Terafiliasi Sherly Tjoanda Keruk Habis Kepulauan Malut?

Publik kini tengah dikejutkan oleh gelombang kritik tajam di media sosial X terhadap Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, terkait dugaan gurita bisnis tambang keluarganya yang memicu kerusakan lingkungan.

Sorotan ini mengemuka setelah beredarnya kompilasi data yang mengaitkan kepemilikan saham sang gubernur dengan sejumlah perusahaan ekstraktif yang beroperasi di Pulau Gebe dan Pulau Obi, menimbulkan pertanyaan serius mengenai keberlanjutan masa depan ekologis wilayah tersebut.

Berdasarkan informasi utas X @Independensumatera yang beredar luas, dengan salah satu unggahan potret sang Gubernur dengan 2,2 juta tayangan, kekayaan Gubernur Maluku Utara ini diestimasikan hampir menyentuh angka 1 Triliun Rupiah.

Angka tersebut memunculkan spekulasi bahwa posisi strategis sebagai pejabat publik dapat dimanfaatkan untuk mengatur regulasi demi kelancaran ekspansi bisnis keluarga.

BACA JUGA:Ini Fakta Kiai Cabul di Pekalongan: Puluhan Santriwati Jadi Korban Sejak 2008 hingga Hamil Ghaib Terbongkar

"Gurita bisnis tambang ini emang statusnya aset keluarga," sebut narasi yang beredar untuk meluruskan sejarah kepemilikan sebelum masa jabatannya.

Deretan perusahaan yang tercatat antara lain PT Karya Wijaya dengan porsi saham 71 persen yang disebut menghancurkan Pulau Gebe, PT Amazing Tabara sebesar 90 persen di Desa Sambiki, serta PT Bela Sarana Permai pada angka 58 persen di Desa Wooi.

Terdapat pula kepemilikan di PT Bela Grop sebesar 25,5 persen dan PT Indonesia Mas Mulia sebesar 15 persen di Pulau Bacan.

Rentetan temuan ini juga diperkuat oleh unggahan akun X independen Sumatera Adil yang mengutip media detikSulsel edisi 25 November 2025 bertajuk "Warga Tolak Keras Perusahaan Tambang Gubernur Malut: Konsesi Caplok Sekampung", menegaskan resistensi dari warga sipil.

BACA JUGA:Siapa Nayla Khansa Adreby Putri? Mahasiswi ITB yang Viral Usai Hina Bobotoh

Dalam bahwa lonjakan pertumbuhan ekonomi Maluku Utara di angka 32,09 persen sejatinya tidak bertumpu pada penguatan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah maupun program pemberdayaan masyarakat.

Diduga Milik Gubernur Maluku Utara, Tambang Nikel Hancurkan Hutan Suku Togutil hingga Keluar Minta Makan

Reza

Ario


bacakoran.co – video viral yang menunjukkan 3 warga mendatangi area tambang di hutan halmahera untuk meminta makanan mengguncang publik.

bukan karena kemalasan, melainkan karena hutan tempat mereka berburu, meramu, dan hidup turun-temurun kini semakin habis akibat ekspansi

isu ini kembali menyoroti konflik antara industri pertambangan dan kelangsungan masyarakat adat di maluku utara. 

keprihatinan mendalam muncul atas nasib suku togutil yang kini terancam punah di tanah kelahiran mereka sendiri.

ekspansi tambang nikel di pulau gebe disebut-sebut sebagai penyebab utama hilangnya ruang hidup mereka.

kritik pun mengarah kepada gubernur maluku utara sherly tjoanda, yang perusahaan tambangnya dituding terlibat dalam kerusakan tersebut. 

seperti yang dikutip bacakorand dari x (twitter) akun @indepensumatera, memuat video dan juga membagikan foto-foto kerusakan pulau gebe yang dikaitkan dengan perusahaan milik sherly tjoanda, dengan 437.315 tayangan. 

menurut postingan tersebut, sherly tjoanda sebagai gubernur dinilai belum cukup hadir dan bersuara tegas membela masyarakat adat.

“bayangkan hutan yang selama ini menjadi rumah, apotek, dan gudang makanan mereka pelan-pelan hilang,” tulis akun tersebut.

suku togutil, atau juga dikenal sebagai orang tobelo dalam/o'hongana manyawa, merupakan kelompok semi-nomaden yang sangat bergantung pada hutan halmahera.

keberadaan mereka semakin terdesak seiring masifnya industri nikel yang mendukung kebutuhan baterai kendaraan listrik global.

aktivitas tambang di pulau gebe, termasuk yang dikaitkan dengan pt karya wijaya, disebut menyebabkan deforestasi, pencemaran, dan hilangnya sumber penghidupan adat. 

sherly tjoanda, yang dikenal memiliki latar belakang bisnis tambang warisan suaminya, telah mengakui kepemilikan saham pasif di beberapa perusahaan.

ia juga pernah mengunjungi suku togutil dan berjanji membangun hunian serta memberikan bantuan tanpa menghapus tradisi mereka.

namun kritik tetap muncul karena adanya dugaan konflik kepentingan antara peran publik dan bisnis keluarga. 

warga menjerit! benarkah tambang terafiliasi sherly tjoanda keruk habis kepulauan malut?

publik kini tengah dikejutkan oleh gelombang kritik tajam di media sosial x terhadap gubernur maluku utara, terkait dugaan gurita bisnis tambang keluarganya yang memicu kerusakan lingkungan.

sorotan ini mengemuka setelah beredarnya kompilasi data yang mengaitkan kepemilikan saham sang gubernur dengan sejumlah perusahaan ekstraktif yang beroperasi di pulau gebe dan pulau obi, menimbulkan pertanyaan serius mengenai keberlanjutan masa depan ekologis wilayah tersebut.

berdasarkan informasi utas x @independensumatera yang beredar luas, dengan salah satu unggahan potret sang gubernur dengan 2,2 juta tayangan, kekayaan gubernur maluku utara ini diestimasikan hampir menyentuh angka 1 triliun rupiah.

angka tersebut memunculkan spekulasi bahwa posisi strategis sebagai pejabat publik dapat dimanfaatkan untuk mengatur regulasi demi kelancaran ekspansi bisnis keluarga.

"gurita bisnis tambang ini emang statusnya aset keluarga," sebut narasi yang beredar untuk meluruskan sejarah kepemilikan sebelum masa jabatannya.

deretan perusahaan yang tercatat antara lain pt karya wijaya dengan porsi saham 71 persen yang disebut menghancurkan pulau gebe, pt amazing tabara sebesar 90 persen di desa sambiki, serta pt bela sarana permai pada angka 58 persen di desa wooi.

terdapat pula kepemilikan di pt bela grop sebesar 25,5 persen dan pt indonesia mas mulia sebesar 15 persen di pulau bacan.

rentetan temuan ini juga diperkuat oleh unggahan akun x independen sumatera adil yang mengutip media detiksulsel edisi 25 november 2025 bertajuk "warga tolak keras perusahaan tambang gubernur malut: konsesi caplok sekampung", menegaskan resistensi dari warga sipil.

dalam bahwa lonjakan pertumbuhan ekonomi maluku utara di angka 32,09 persen sejatinya tidak bertumpu pada penguatan anggaran pendapatan belanja daerah maupun program pemberdayaan masyarakat.

angka tersebut murni digerakkan oleh eksploitasi nikel skala masif.

secara tinjauan analitis ketahanan ekonomi regional, pola pengerukan sumber daya alam seperti ini menciptakan jebakan ekonomi "boom and bust".

di mana suatu daerah akan merasakan euforia aliran dana sesaat, namun berisiko terpuruk menjadi wilayah tertinggal ketika cadangan mineral habis dalam 20 hingga 40 tahun mendatang, sementara struktur fondasi ekonomi yang berkelanjutan gagal dibangun.

kerugian ekologis yang harus dibayar mahal oleh generasi mendatang akibat penambangan ini sangat mengerikan.

deforestasi ekstrem memicu pengikisan tanah laterit, mengubah perairan pesisir yang tadinya bergradasi biru jernih menjadi kubangan lumpur pekat.

fakta keilmuan menunjukkan bahwa residu logam berat di struktur tanah dan perairan dapat bertahan 200 hingga 500 tahun ke depan tanpa tindakan remediasi tingkat tinggi.

setelah utas ramai di x banyak netizen ramai membanjiri memberikan tanggapan.

"jika benar mayoritas kepemilikan saham perusahaan tambang di malut itu adalah milik sherly, maka kita sebagai rakyat (lagi dan lagi) hanya menjadi korban manipulasi pencitraan medsos oleh gubernur populis," tulis @kalistohenituse.

"biar gak simpang siur soal kepemilikan sahamnya: secara hukum, gurita bisnis tambang ini emang statusnya aset/bisnis keluarga yang dibangun bareng mendiang suaminya (benny laos) jauh sebelum sherly tjoanda jadi pejabat publik," tulis @rakha2237.

"seburuk2nya beliau, at least beliau ini ada impactnya anjir. lagian klo bahas kekayaan, itu jg dr sebelum menjabat. klo mau bahas jelek2nya, sebelum bu sherly pun ancur2an kocak di malut," tulis @romanticgurls.

"lah dia baik tp coba deh di runtut dia masuk politik karna apa, kok dia ngebet bgt terjun itu knp lu pasti bakal tau deh," tulis @perseflame.

Tag
Share