bacakoran.co – dosen fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (fisipol) universitas gadjah mada (ugm) yang juga menjabat direktur di center of economic and law studies (celios), dr. media wahyudi askar, menyampaikan kritik tajam terhadap program makan bergizi gratis ().
menurutnya, alokasi anggaran sebesar rp335 triliun berpotensi tidak optimal dan tetap menghadapi kesulitan ekonomi.
dalam video yang beredar luas, media wahyudi askar menyoroti, "sekarang mbg itu 335 triliun dibakar, rakyat tetap susah?" ia menambahkan bahwa jika dana tersebut dibagi langsung kepada masyarakat, untuk kebutuhan sewa (rente), hingga vendor, dampaknya bisa lebih dirasakan langsung.
pernyataan ini disampaikan dengan data dan penjelasan meyakinkan, khas akademisi yang lulus s2 dan s3 dari the university of manchester.
video tersebut diunggah oleh akun x @ommi_siregar pada minggu, 21 juni 2026.
netizen pun ramai berkomentar membanjiri postingan tersebut.
"sopan beradab by data riset bahkan disampaikan sebelum mbg meledak, ndak didengar juga," tulis @alifanews.
sebagai pakar kebijakan publik dengan latar belakang riset mendalam di bidang kemiskinan, ketimpangan, dan keadilan fiskal, media wahyudi askar kerap menjadi rujukan analisis kebijakan pemerintah.
kritiknya terhadap mbg bukan sekadar opini, melainkan berbasis perhitungan efisiensi anggaran.
ia menekankan pentingnya meritokrasi dalam pengelolaan program besar agar tidak terjadi pemborosan, termasuk isu makanan terbuang yang disebutkan mencapai rp1,7 triliun per minggu dalam diskusi terkait.
analisis ini relevan mengingat anggaran mbg sempat direncanakan rp335 triliun untuk 2026 sebelum mengalami pemangkasan menjadi rp268 triliun.
pakar menilai program bernilai strategis untuk mengatasi stunting dan gizi buruk, namun pelaksanaannya harus diawasi ketat agar tepat sasaran dan memberikan nilai tambah ekonomi jangka panjang, bukan hanya konsumsi sesaat.
keunggulan pendekatan berbasis data seperti yang ditunjukkan media wahyudi askar membantu publik memahami trade-off kebijakan di tengah keterbatasan fiskal negara.
di sisi lain pendukung program menekankan potensi multiplier effect terhadap petani, umkm pangan, dan penurunan angka gizi buruk.