BACAKORAN.CO – Kementerian Pertahanan resmi mengganti program Latihan Dasar Kemiliteran atau latsarmil bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dengan Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial.
Perubahan ini dilakukan sebagai hasil evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan pelatihan, termasuk penghapusan materi menembak yang sebelumnya menjadi bagian dari kegiatan.
Kebijakan tersebut diterapkan kepada calon pengelola atau manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP).
Langkah ini diambil setelah muncul evaluasi terhadap sistem pembelajaran menyusul meninggalnya 5 peserta selama mengikuti latsarmil.
BACA JUGA:Fakta Sidang Nadiem Makarim, Putusan 1.146 Halaman Hanya Dibacakan 122 Halaman
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan materi yang berkaitan dengan latihan teknis militer kini dikurangi agar pelatihan lebih sesuai dengan kebutuhan peserta sebagai calon pengelola koperasi.
"Dengan penyesuaian tersebut, kegiatan yang bersifat taktis dan teknis militer dikurangi, termasuk kegiatan menembak tidak lagi menjadi bagian dari pelaksanaan latihan saat ini," kata Rico saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (29/6).
Menurut Rico, perubahan tersebut bukan hanya mengganti nama program, tetapi juga memperbarui sistem pelatihan dan materi pembelajaran agar lebih relevan dengan tugas peserta di masa mendatang.
Fokus Pelatihan Beralih ke Kepemimpinan dan Manajerial
Dalam skema terbaru, peserta akan memperoleh pembekalan yang lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, hingga kemampuan mengelola organisasi.
BACA JUGA:Kejari Geledah Dishub Palembang, Buru Bukti Korupsi Lampu Jalan
"Serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola koperasi," ujar Rico.
Selain materi pembelajaran, Kementerian Pertahanan juga akan memperkuat pengawasan terhadap kondisi kesehatan peserta selama pelatihan berlangsung.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan proses pendidikan berjalan lebih aman, tertib, dan sesuai kondisi fisik masing-masing peserta.
Evaluasi Menyusul 5 Peserta Meninggal Dunia
Keputusan mengubah latsarmil menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial tidak terlepas dari evaluasi menyeluruh yang dilakukan Kementerian Pertahanan setelah 5 peserta meninggal dunia saat mengikuti pendidikan di satuan pendidikan TNI.
Setelah 5 Peserta Meninggal, Kemhan Ubah Latsarmil SPPI Jadi Latihan Bela Negara
Agung
Dwiki
bacakoran.co – kementerian pertahanan resmi mengganti program latihan dasar kemiliteran atau latsarmil bagi peserta sarjana penggerak pembangunan indonesia () dengan latihan pembekalan bela negara dan manajerial.
perubahan ini dilakukan sebagai hasil evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan pelatihan, termasuk penghapusan materi yang sebelumnya menjadi bagian dari kegiatan.
kebijakan tersebut diterapkan kepada calon pengelola atau manajer koperasi desa/kelurahan merah putih (kdkmp) dan koperasi nelayan merah putih (knmp).
langkah ini diambil setelah muncul evaluasi terhadap sistem pembelajaran menyusul meninggalnya 5 peserta selama mengikuti latsarmil.
kepala biro informasi pertahanan sekretariat jenderal kementerian pertahanan, brigjen tni rico ricardo sirait, mengatakan materi yang berkaitan dengan latihan teknis militer kini dikurangi agar pelatihan lebih sesuai dengan kebutuhan peserta sebagai calon pengelola koperasi.
"dengan penyesuaian tersebut, kegiatan yang bersifat taktis dan teknis militer dikurangi, termasuk kegiatan menembak tidak lagi menjadi bagian dari pelaksanaan latihan saat ini," kata rico saat dikonfirmasi di jakarta, senin (29/6).
menurut rico, perubahan tersebut bukan hanya mengganti nama program, tetapi juga memperbarui sistem pelatihan dan materi pembelajaran agar lebih relevan dengan tugas peserta di masa mendatang.
fokus pelatihan beralih ke kepemimpinan dan manajerial
dalam skema terbaru, peserta akan memperoleh pembekalan yang lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, hingga kemampuan mengelola organisasi.
"serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola koperasi," ujar rico.
selain materi pembelajaran, kementerian pertahanan juga akan memperkuat pengawasan terhadap kondisi kesehatan peserta selama pelatihan berlangsung.
langkah tersebut dilakukan untuk memastikan proses pendidikan berjalan lebih aman, tertib, dan sesuai kondisi fisik masing-masing peserta.
evaluasi menyusul 5 peserta meninggal dunia
keputusan mengubah latsarmil menjadi latihan pembekalan bela negara dan manajerial tidak terlepas dari evaluasi menyeluruh yang dilakukan kementerian pertahanan setelah 5 peserta meninggal dunia saat mengikuti pendidikan di satuan pendidikan tni.
berdasarkan informasi yang disampaikan pemerintah, penyebab meninggalnya para peserta berbeda-beda, mulai dari heat stroke, tuberkulosis, hingga henti jantung.
peristiwa tersebut mendorong menteri pertahanan sjafrie sjamsoeddin melakukan evaluasi terhadap pola pelatihan agar lebih mengutamakan keselamatan peserta tanpa mengurangi tujuan pembentukan disiplin dan karakter.
perubahan ini juga menunjukkan adanya penyesuaian arah pelatihan.
jika sebelumnya terdapat materi yang identik dengan latihan dasar kemiliteran kini pendekatan lebih difokuskan pada peningkatan kapasitas manajerial, kepemimpinan dan bela negara yang dinilai lebih relevan dengan tugas peserta sebagai pengelola koperasi merah putih.