bacakoran.co

Stop Panik! Peneliti Ungkap Cara Paling Efektif Menghadapi Anak Tantrum

Anak anda tantrum? Jangan panik, ini cara mengatasi anak tantrum!-Foto: IST-

BACAKORAN.CO - Tantrum merupakan salah satu fase perkembangan yang umum dialami anak, terutama pada usia 1 hingga 4 tahun.

Meski sering membuat orang tua kewalahan, para peneliti menegaskan bahwa tantrum bukan berarti anak nakal atau memiliki perilaku buruk.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tantrum adalah bentuk ledakan emosi ketika anak belum memiliki kemampuan mengendalikan perasaan maupun mengungkapkan keinginannya melalui kata-kata.

Cara orang tua merespons situasi tersebut justru menjadi faktor penting yang menentukan apakah perilaku tantrum akan berkurang atau semakin sering terjadi.

BACA JUGA:Heboh! Sarah Gibson Beri Kode Siap Cerai dari Diska Resha Setelah Selingkuh dengan Janda 2 Anak

BACA JUGA:Trik Merawat Transmisi Mobil Manual Tetap Empuk dan Responsif Saat Terjebak Kemacetan Parah

Salah satu penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry menjelaskan bahwa kemampuan regulasi emosi anak berkembang secara bertahap.

Pada usia balita, bagian otak yang mengatur pengendalian diri belum berkembang sempurna sehingga anak lebih mudah frustrasi ketika keinginannya tidak terpenuhi.

Sementara itu, American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan agar orang tua tidak membalas tantrum dengan kemarahan.

Respons yang tenang justru membantu anak belajar mengelola emosinya.

BACA JUGA:Piala Dunia 2026: Ronaldo Pemain Terbaik, Portugal ke 16 Besar, Ini Lawan Selanjutnya

BACA JUGA:Seni Mengubah Sudut Hunian Menjadi Episentrum Kerja yang Estetik dan Inspiratif

Berikut beberapa cara mengatasi anak tantrum yang didukung berbagai penelitian ilmiah.

1. Tetap Tenang

Stop Panik! Peneliti Ungkap Cara Paling Efektif Menghadapi Anak Tantrum

Vanny

Vanny


bacakoran.co - tantrum merupakan salah satu fase perkembangan yang umum dialami anak, terutama pada usia 1 hingga 4 tahun.

meski sering membuat orang tua kewalahan, para peneliti menegaskan bahwa tantrum bukan berarti anak nakal atau memiliki perilaku buruk.

berbagai penelitian menunjukkan bahwa tantrum adalah bentuk ledakan emosi ketika anak belum memiliki kemampuan mengendalikan perasaan maupun mengungkapkan keinginannya melalui kata-kata.

cara orang tua merespons situasi tersebut justru menjadi faktor penting yang menentukan apakah perilaku tantrum akan berkurang atau semakin sering terjadi.

salah satu penelitian yang dipublikasikan dalam menjelaskan bahwa kemampuan regulasi emosi anak berkembang secara bertahap.

pada usia balita, bagian otak yang mengatur pengendalian diri belum berkembang sempurna sehingga anak lebih mudah frustrasi ketika keinginannya tidak terpenuhi.

sementara itu, menyarankan agar orang tua tidak membalas tantrum dengan kemarahan.

respons yang tenang justru membantu anak belajar mengelola emosinya.

berikut beberapa cara mengatasi anak tantrum yang didukung berbagai penelitian ilmiah.

1. tetap tenang

penelitian menunjukkan bahwa emosi orang tua dapat memengaruhi emosi anak. ketika orang tua ikut berteriak atau marah, intensitas tantrum biasanya meningkat.

sebaliknya, berbicara dengan suara lembut dan menjaga ekspresi tetap tenang dapat membantu anak merasa lebih aman sehingga emosinya perlahan mereda.

2. pastikan anak tetap aman

saat tantrum, beberapa anak dapat memukul, menendang, membenturkan kepala, atau melempar benda.

peneliti menyarankan agar orang tua memindahkan benda berbahaya dan menjaga keselamatan anak tanpa menggunakan kekerasan fisik.

3. jangan langsung menuruti semua permintaan

memberikan apa yang diinginkan anak hanya agar tangisnya berhenti memang terlihat praktis.

namun berbagai penelitian perilaku menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut justru memperkuat perilaku tantrum karena anak belajar bahwa menangis adalah cara efektif memperoleh keinginannya.

4. validasi perasaan anak

penelitian mengenai perkembangan emosi menunjukkan bahwa anak lebih mudah tenang ketika perasaannya diakui.

kalimat sederhana seperti, "ayah tahu kamu sedang kecewa," atau "ibu mengerti kamu sedang marah," dapat membantu anak merasa dipahami tanpa harus memenuhi seluruh keinginannya.

5. alihkan perhatian setelah emosi mulai mereda

studi dalam psikologi perkembangan menemukan bahwa teknik distraksi atau pengalihan perhatian cukup efektif pada balita.

setelah tangisan mulai berkurang, orang tua dapat mengajak anak membaca buku, bermain, atau memperhatikan benda yang menarik.

6. ajarkan anak mengenali emosi

menurut penelitian, anak yang diajarkan mengenali emosi sejak dini memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik.

biasakan mengenalkan berbagai ekspresi seperti senang, sedih, marah, takut, dan kecewa agar anak belajar mengungkapkan perasaan melalui kata-kata, bukan melalui ledakan emosi.

7. konsisten dengan aturan

konsistensi merupakan salah satu kunci dalam membentuk perilaku anak.

jika suatu aturan diterapkan hari ini, maka aturan yang sama sebaiknya tetap berlaku keesokan harinya. ketidakkonsistenan membuat anak bingung dan meningkatkan kemungkinan tantrum berulang.

tantrum perlu diwaspadai bila terjadi berlebihan

meski merupakan bagian normal dari perkembangan, beberapa penelitian menyebutkan bahwa tantrum perlu mendapat perhatian lebih apabila terjadi sangat sering, berlangsung lebih dari 15–25 menit hampir setiap hari, disertai perilaku melukai diri sendiri atau orang lain, serta masih sering terjadi setelah usia sekitar lima tahun.

dalam kondisi tersebut, orang tua dianjurkan berkonsultasi dengan psikolog atau dokter spesialis anak untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

pada akhirnya, berbagai jurnal ilmiah sepakat bahwa tujuan utama menghadapi tantrum bukan sekadar menghentikan tangisan anak secepat mungkin, melainkan membantu mereka belajar mengenali, mengendalikan, dan mengekspresikan emosinya dengan cara yang sehat.

kesabaran, konsistensi, serta komunikasi yang hangat menjadi fondasi utama agar anak tumbuh dengan kemampuan regulasi emosi yang baik di masa depan.

Tag
Share