Prabowo Mainkan Kartu 'Londo Ireng', Ferdinand: Strategi Intelijen Politik?
Prabowo Mainkan Kartu 'Londo Ireng', Ferdinand: Strategi Intelijen Politik?gbr.good news from indonesia--
BACAKORAN.CO – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut istilah "Londo Ireng" dalam pidatonya pada peringatan Hari Lahir (Harlah) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menuai beragam respons. Salah satu tanggapan datang dari politikus Ferdinand Hutahaean yang menilai penyebutan istilah tersebut merupakan bagian dari strategi komunikasi politik.
Dalam pernyataannya yang diunggah melalui kanal YouTube Tribunnews, Ferdinand menyebut bahwa ucapan Presiden Prabowo bukan sekadar spontan, melainkan dapat dipandang sebagai sebuah "pancingan" untuk melihat respons dari pihak-pihak tertentu.
BACA JUGA:Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur Mendadak, Prabowo Beri Respons Mengejutkan Ini
Ferdinand: Pidato Prabowo Diduga Sebagai Strategi Identifikasi
Menurut Ferdinand Hutahaean, penyebutan istilah "Londo Ireng" dapat dianalogikan sebagai teknik identifikasi yang dikenal dalam dunia intelijen.
Ia berpendapat bahwa penggunaan istilah tersebut berfungsi untuk memancing reaksi sehingga pihak-pihak yang merasa terkait atau terdampak akan memberikan respons secara terbuka.
"Ini seperti trik identifikasi. Dengan memberikan pancingan, pihak-pihak tertentu akan menunjukkan responsnya sendiri," demikian inti pandangan Ferdinand dalam tayangan tersebut.
Dinilai Memancing Beragam Respons
Ferdinand menilai sejumlah kalangan yang kemudian memberikan kritik atau tanggapan terhadap penggunaan istilah tersebut, baik dari unsur politisi, jurnalis, pengamat politik, maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM), merupakan pihak-pihak yang ikut merespons pancingan tersebut.
Pandangan tersebut merupakan analisis pribadi Ferdinand Hutahaean dan bukan pernyataan resmi dari Presiden Prabowo maupun Istana.
Istilah "Londo Ireng" Jadi Sorotan
Penyebutan istilah "Londo Ireng" dalam pidato Presiden Prabowo sebelumnya menjadi perhatian publik dan memunculkan berbagai interpretasi di media sosial maupun ruang diskusi publik.
Sebagian pihak menilai istilah tersebut memiliki makna historis dan politis, sementara pihak lain memberikan penafsiran yang berbeda sesuai sudut pandang masing-masing.