bacakoran.co

PLTS Indonesia Makin Ngebut! Target 100 GW Mulai Dikejar, Benarkah Kota Besar Bisa Beralih ke Energi Surya?

Wujud nyata energi bersih! Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) kini berhasil menyuplai hingga 60% kebutuhan listrik kota besar secara stabil dan ramah lingkungan.-Foto:ist-

Karena itu, sistem perkotaan membutuhkan kombinasi beberapa teknologi.

PLTS dapat menjadi sumber listrik utama pada periode tertentu. BESS dapat menyimpan kelebihan energi. Sementara pembangkit dan jaringan lainnya tetap diperlukan untuk menjaga keandalan sistem.

Dengan kata lain, masa depan energi perkotaan kemungkinan bukan hanya tentang PLTS 100 persen, tetapi tentang sistem listrik yang semakin terintegrasi antara energi surya, baterai, jaringan pintar, dan sumber energi lainnya.

BACA JUGA:PLN Sudah Siapkan Nuklir Untuk Pembangkit Listrik Terbaru, Amankah?

Menuju Era Listrik Lebih Bersih

Perkembangan terbaru menunjukkan arah kebijakan Indonesia semakin serius menuju energi surya.

Target 100 GW PLTS menjadi salah satu indikator paling jelas mengenai besarnya ambisi pemerintah. Tahap awal 17 GW dengan dukungan BESS sekitar 33 GW juga menunjukkan bahwa pembangunan pembangkit harus berjalan bersamaan dengan penguatan sistem penyimpanan.

Namun, perjalanan menuju kota yang mayoritas menggunakan energi surya masih panjang.

Data April 2026 menunjukkan kapasitas PLTS, PLTS Atap, dan PLTS Terapung masih berada di kisaran 1,62 GW secara agregat.

Karena itu, angka kontribusi 60 persen lebih tepat dipandang sebagai potensi atau target pada proyek maupun kawasan tertentu, bukan sebagai kondisi umum seluruh kota besar Indonesia.

Jika pembangunan pembangkit, BESS, transmisi, dan smart grid dapat berjalan beriringan, energi matahari berpeluang memainkan peran jauh lebih besar dalam sistem kelistrikan Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.

Kesimpulan: Indonesia sedang mempercepat pengembangan PLTS dengan target besar hingga 100 GW. Tahap awal sebesar 17 GW akan didukung BESS sekitar 33 GW. Meski PLTS belum memenuhi 60 persen kebutuhan listrik kota besar secara nasional, perkembangan kapasitas dan investasi menunjukkan energi surya semakin penting dalam strategi transisi energi Indonesia.

PLTS Indonesia Makin Ngebut! Target 100 GW Mulai Dikejar, Benarkah Kota Besar Bisa Beralih ke Energi Surya?

isya

djarwo


bacakoran.co - pembangkit listrik tenaga surya () kini menjadi salah satu tumpuan utama indonesia dalam mempercepat transisi menuju energi bersih.

memasuki agustus 2026, pemerintah bahkan tengah mempercepat program pengembangan plts hingga 100 gigawatt (gw). tahap awal program tersebut disiapkan sebesar 17 gw dan akan didukung sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau battery energy storage system (bess) sekitar 33 gw.

angka tersebut menunjukkan bahwa energi surya tidak lagi ditempatkan sebagai sumber listrik pelengkap.

namun, klaim bahwa plts saat ini sudah mampu memenuhi hingga 60 persen kebutuhan listrik kota besar belum dapat digeneralisasi untuk indonesia. data resmi kementerian esdm menunjukkan kapasitas plts nasional masih jauh dari angka tersebut.

kapasitas plts indonesia terus bertambah

berdasarkan data direktorat jenderal energi baru, terbarukan dan konservasi energi (ebtke), hingga april 2026 kapasitas pembangkit energi terbarukan yang tercatat mencapai 16.262,11 mw.

dari jumlah tersebut, kapasitas plts tercatat 510,57 mw, plts atap 916,99 mw, dan plts terapung 196,51 mw.

jika ketiganya dijumlahkan, kapasitas plts dalam berbagai kategori tersebut mencapai sekitar 1,62 gw.

angka ini memperlihatkan bahwa sektor energi surya indonesia memang berkembang pesat. namun, masih dibutuhkan ekspansi besar untuk menjadikan matahari sebagai salah satu sumber utama listrik nasional.

pemerintah kejar plts 100 gw

target terbesar saat ini datang dari program pengembangan plts 100 gw.

kementerian esdm pada mei 2026 menyatakan pemerintah sedang mempercepat program tersebut. tahap awalnya akan dibangun sekitar 17 gw plts, lengkap dengan dukungan bess sekitar 33 gw.

bess menjadi komponen penting karena listrik dari panel surya tidak diproduksi secara konstan sepanjang hari.

produksi listrik biasanya meningkat ketika intensitas matahari tinggi. sebaliknya, produksinya menurun pada sore dan malam hari.

dengan baterai berkapasitas besar, energi yang dihasilkan ketika produksi melimpah dapat disimpan untuk digunakan ketika kebutuhan listrik meningkat.

kenapa bess penting untuk plts?

salah satu tantangan utama energi surya adalah sifatnya yang intermiten.

artinya, jumlah listrik yang dihasilkan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca dan waktu.

bess membantu mengatasi persoalan tersebut.

secara sederhana, mekanismenya bekerja seperti berikut:

  • plts menghasilkan listrik pada siang hari.
  • kelebihan produksi dialihkan ke baterai.
  • energi disimpan dalam bess.
  • saat produksi plts menurun, listrik dari baterai dapat digunakan.
  • sistem pengelolaan jaringan mengatur distribusi berdasarkan kebutuhan.

kombinasi plts, bess, dan jaringan listrik pintar menjadi semakin penting ketika porsi energi surya dalam sistem kelistrikan semakin besar.

potensi plts atap juga semakin besar

selain pembangkit berskala besar, pemerintah juga terus mengembangkan plts atap.

data ebtke menunjukkan kapasitas plts atap telah mencapai 916,99 mw pada april 2026.

plts atap dapat dipasang pada rumah, gedung perkantoran, fasilitas publik, hingga kawasan industri.

model ini memberikan peluang bagi konsumen untuk memanfaatkan energi matahari secara langsung.

bagi sektor bisnis, plts atap juga dapat menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap listrik konvensional, meskipun keekonomiannya tetap bergantung pada profil konsumsi, biaya investasi, dan aturan yang berlaku.

target energi surya indonesia semakin ambisius

pengembangan plts juga menjadi bagian dari rencana ekspansi pembangkit nasional.

dalam ruptl pln 2025-2034, indonesia menargetkan tambahan kapasitas pembangkit energi terbarukan dalam jumlah besar. salah satu proyek besar yang tengah berjalan adalah plts terapung saguling di jawa barat dengan kapasitas sekitar 92 mwp.

proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada november 2026 dan diperkirakan menghasilkan lebih dari 130 gwh listrik per tahun.

proyek plts terapung menjadi menarik karena memanfaatkan permukaan waduk tanpa membutuhkan lahan daratan dalam skala besar.

bukan hanya soal panel surya

peralihan menuju energi surya tidak cukup hanya dengan memperbanyak panel.

infrastruktur jaringan listrik juga harus berkembang.

ketika pembangkit surya tersebar di banyak lokasi, sistem kelistrikan membutuhkan teknologi yang mampu memantau produksi dan konsumsi secara lebih cepat.

di sinilah konsep smart grid memiliki peran penting.

smart grid memungkinkan pengelolaan aliran listrik secara lebih fleksibel. sistem tersebut dapat membantu operator menyesuaikan pasokan dengan perubahan permintaan serta mengintegrasikan pembangkit energi terbarukan yang produksinya tidak selalu stabil.

tantangan menuju kota berbasis energi surya

meski prospeknya besar, indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan.

pertama adalah kebutuhan investasi yang sangat besar.

kedua, pembangunan jaringan transmisi harus mengikuti pertumbuhan pembangkit.

ketiga, sistem penyimpanan energi harus semakin ekonomis dan andal.

keempat, indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang memahami instalasi, operasi, pemeliharaan, hingga pengelolaan plts dan bess.

kementerian esdm bahkan pada juni 2026 membahas penguatan sumber daya manusia untuk sektor plts, termasuk plts atap, karena pertumbuhan industri membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai.

apakah kota besar bisa mengandalkan energi surya?

jawabannya bisa, tetapi tidak secara instan.

kota besar memiliki kebutuhan listrik yang sangat tinggi dan berlangsung sepanjang hari. sementara produksi plts sangat bergantung pada matahari.

karena itu, sistem perkotaan membutuhkan kombinasi beberapa teknologi.

plts dapat menjadi sumber listrik utama pada periode tertentu. bess dapat menyimpan kelebihan energi. sementara pembangkit dan jaringan lainnya tetap diperlukan untuk menjaga keandalan sistem.

dengan kata lain, masa depan energi perkotaan kemungkinan bukan hanya tentang plts 100 persen, tetapi tentang sistem listrik yang semakin terintegrasi antara energi surya, baterai, jaringan pintar, dan sumber energi lainnya.

menuju era listrik lebih bersih

perkembangan terbaru menunjukkan arah kebijakan indonesia semakin serius menuju energi surya.

target 100 gw plts menjadi salah satu indikator paling jelas mengenai besarnya ambisi pemerintah. tahap awal 17 gw dengan dukungan bess sekitar 33 gw juga menunjukkan bahwa pembangunan pembangkit harus berjalan bersamaan dengan penguatan sistem penyimpanan.

namun, perjalanan menuju kota yang mayoritas menggunakan energi surya masih panjang.

data april 2026 menunjukkan kapasitas plts, plts atap, dan plts terapung masih berada di kisaran 1,62 gw secara agregat.

karena itu, angka kontribusi 60 persen lebih tepat dipandang sebagai potensi atau target pada proyek maupun kawasan tertentu, bukan sebagai kondisi umum seluruh kota besar indonesia.

jika pembangunan pembangkit, bess, transmisi, dan smart grid dapat berjalan beriringan, energi matahari berpeluang memainkan peran jauh lebih besar dalam sistem kelistrikan indonesia dalam beberapa tahun mendatang.

kesimpulan: indonesia sedang mempercepat pengembangan plts dengan target besar hingga 100 gw. tahap awal sebesar 17 gw akan didukung bess sekitar 33 gw. meski plts belum memenuhi 60 persen kebutuhan listrik kota besar secara nasional, perkembangan kapasitas dan investasi menunjukkan energi surya semakin penting dalam strategi transisi energi indonesia.

Tag
Share