bacakoran.co

3 Bakteri Ditemukan di Menu MBG Karo: Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan E. coli, Apa Bahayanya?

Ilustras, bakteri menempel di makanan--AI

3 Bakteri Ditemukan di Menu MBG Karo: Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan E. coli, Apa Bahayanya?

Deby Tri

Deby Tri


bacakoran.co – hasil uji laboratorium menu makan bergizi gratis (mbg) di kabupaten karo, sumatera utara, yang menyebabkan setidaknya 361 siswa keracunan, menunjukkan kontaminasi tiga jenis bakteri bacillus cereus pada nasi, staphylococcus aureus pada ikan (dencis saus), dan escherichia coli pada melon.

sampel muntahan siswa juga positif staphylococcus aureus.

temuan ini memicu pertanyaan besar bagaimana bakteri tersebut masuk ke makanan massal, apa gejalanya, seberapa bahaya, dan bagaimana mencegahnya agar kejadian serupa tidak terulang.

sebagaimana dibagikan di media sosial x @adamprabata pada tanggal 8 september 2026, dokter dan phd medical science tersebut merinci mekanisme masing-masing bakteri berdasarkan hasil pemeriksaan yang beredar.

kasus yang terjadi pada agustus 2026 ini melibatkan siswa dari lima sekolah di wilayah berastagi dan sekitarnya.

gejala yang dilaporkan bervariasi, mulai dari gatal mulut, mual, muntah, diare, hingga sesak.

beberapa siswa sempat dirawat intensif.

temuan laboratorium resmi dari uptd laboratorium kesehatan dinas kesehatan sumut menjadi titik terang, meski para ahli menekankan bahwa keberadaan bakteri saja belum tentu menjadi penyebab tunggal tanpa pencocokan gejala, waktu muncul, dan jumlah toksin.

menurut penjelasan sekretaris dinas kesehatan pemprov sumut, hamid rizal lubis, sampel yang diuji meliputi nasi, dencis saus, tahu goreng, sayur, melon, dan muntahan siswa.

dari empat parameter bakteri (salmonella, e. coli, staphylococcus aureus, dan bacillus cereus), empat sampel dinyatakan positif:

nasi dari sekolah: bacillus cereus  

dencis saus: staphylococcus aureus  

melon dari sekolah: escherichia coli  

muntahan siswa: staphylococcus aureus  

“benar, hasil laboratoriumnya sudah keluar. kami sudah kirim hasilnya ke dinas kesehatan kabupaten karo,” ujar hamid rizal lubis.

1. bacillus cereus: bakteri nasi basi yang toksinnya tahan panas

bacillus cereus merupakan bakteri pembentuk spora yang sering ditemukan di tanah dan beras.

spora ini mampu bertahan saat nasi dimasak.

jika nasi atau makanan bertepung dibiarkan di suhu ruangan terlalu lama (zona bahaya 5–60°c), spora tumbuh dan menghasilkan toksin, terutama cereulide yang sangat stabil terhadap panas.

“paling sering ditemukan pada nasi, terutama nasi goreng yang dibiarkan kelamaan di suhu ruangan. spora yang bikin keracunan ini sangat stabil di suhu panas, sehingga memanaskan ulang makanan gak selalu menghilangkan racunnya,” jelas dr. adam prabata.

gejala tipikal:

mual dan muntah (tipe emetik, muncul 30 menit–6 jam)

diare dan kram perut (tipe diare, muncul 6–15 jam)

pada kadar toksin sangat tinggi (jarang), dapat terjadi komplikasi berat seperti gagal ginjal akut, gangguan hati, hingga ensefalopati.

2. staphylococcus aureus: bakteri dari kulit dan tangan manusia

staphylococcus aureus umum hidup di kulit, hidung, dan tangan manusia.

kontaminasi terjadi ketika penjamah makanan yang tidak mencuci tangan atau memiliki luka terbuka menyentuh makanan, terutama yang berprotein tinggi seperti ikan.

bakteri ini menghasilkan staphylococcal enterotoxin yang juga tahan panas.

gejala yang muncul biasanya 2–8 jam setelah makan:

mual dan muntah hebat

diare

kram perut

kadang demam

“staphylococcus aureus umum ditemukan pada kulit dan tangan manusia. bila masuk ke makanan dan dibiarkan lama, maka bisa menghasilkan toksin… bakteri ini racunnya juga bisa bertahan pada makanan yang dipanaskan,” papar dr. adam prabata.

3. escherichia coli: indikator kontaminasi fekal

e. coli secara normal ada di saluran cerna manusia dan hewan.

keberadaannya pada makanan, terutama buah potong seperti melon, menunjukkan kemungkinan kontaminasi fekal (kotoran) akibat higiene buruk, air tercemar, atau peralatan kotor.

tidak semua strain berbahaya, namun shiga toxin-producing e. coli (stec) dapat menyebabkan hemolytic uremic syndrome (hus) yang berujung gagal ginjal akut, bahkan komplikasi saraf.

“e. coli adalah bakteri normal yang dapat ditemukan di saluran cerna manusia, namun bila ditemukan pada makanan, maka perlu dipertanyakan higienitasnya dan kemungkinan kontaminasi fekal,” tegas dr. adam prabata.

anak-anak lebih rentan karena sistem imun dan volume cairan tubuh yang lebih kecil, sehingga dehidrasi cepat terjadi.

“orang tua anak-anak korban keracunan mbg protes para pejabat malah saling lempar tanggung jawab,” tulis @liaasister di x, mencerminkan kekhawatiran publik terhadap tata kelola keamanan pangan.

cara mencegah keracunan makanan di rumah dan di sekolah

berikut langkah praktis berbasis prinsip keamanan pangan:

prinsip suhu aman: makanan panas dijaga di atas 60°c, makanan dingin di bawah 5°c. jangan biarkan di suhu ruangan lebih dari 2 jam.

dinginkan cepat: nasi atau makanan matang segera bagi porsi kecil dan masukkan ke kulkas.

cuci tangan dan peralatan: penjamah wajib cuci tangan dengan sabun, terutama setelah ke toilet atau menyentuh bahan mentah.

cuci buah dengan benar: cuci kulit melon sebelum dipotong. gunakan pisau dan talenan bersih.

pemanasan ulang: panaskan hingga suhu internal minimal 75°c, tetapi ingat toksin tertentu tetap bertahan.

pisahkan bahan: jangan campur peralatan untuk daging/ikan mentah dengan makanan siap makan.

dengan pemahaman yang tepat tentang bacillus cereus, staphylococcus aureus, dan escherichia coli, kita bisa lebih waspada dan mencegah kejadian serupa.

keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama dari dapur rumah tangga hingga dapur massal program nasional.

Tag
Share