RayNeo iO Smart Glasses Resmi Meluncur: Kacamata AI 33 Gram Tanpa Kamera
RayNeo iO Smart Glasses Resmi Meluncur: Kacamata AI 33 Gram Tanpa Kamera.gbr.telset.id--
BACAKORAN.CO - RayNeo iO Smart Glasses resmi dijual mulai 4 September 2026 dengan harga mulai US$499 atau sekitar Rp8 jutaan. Berbeda dari smart glasses yang mengandalkan kamera dan speaker, RayNeo iO justru mengutamakan layar heads-up display (HUD), AI, terjemahan real-time, serta fitur produktivitas.
Produk ini juga diperkenalkan secara langsung dalam ajang IFA 2026 di Berlin. RayNeo menempatkan iO sebagai kacamata AI untuk penggunaan sehari-hari, terutama bekerja, belajar, bepergian, rapat, hingga presentasi.
RayNeo iO Dijual Mulai US$499
Harga RayNeo iO ternyata lebih tinggi dari perkiraan awal sekitar US$479.
RayNeo menetapkan harga ritel US$499 atau €549 untuk paket dengan standard case. Sementara versi dengan charging case dibanderol US$549 atau €599.
Dalam periode peluncuran, RayNeo memberikan potongan US$30 atau €30. Harga tersebut dapat berbeda berdasarkan wilayah penjualan.
Jika menggunakan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS, harga dasarnya setara sekitar Rp7,98 juta. Namun, angka tersebut belum memperhitungkan pajak, biaya impor, dan harga distributor jika produk masuk Indonesia.
RayNeo menyebut penjualan dilakukan melalui toko resminya dan Amazon. Distribusinya mencakup sekitar 40 negara dan wilayah, termasuk beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Bobot Cuma 33 Gram
Salah satu daya tarik terbesar RayNeo iO adalah desainnya.
Kacamata ini memiliki bobot sekitar 33 gram. Materialnya menggunakan magnesium-aluminium alloy AZ91D pada bingkai, sementara tangkainya menggunakan titanium.
RayNeo juga merancang distribusi bobot agar terasa seimbang ketika dipakai dalam waktu lama.
Konsep tersebut cukup masuk akal karena iO memang bukan perangkat yang dirancang hanya untuk sesekali digunakan.
RayNeo membidiknya sebagai perangkat yang terus dikenakan sepanjang aktivitas harian.
HUD Monokrom dengan Transparansi 97 Persen
Berbeda dari kacamata AR dengan layar virtual besar, RayNeo iO memakai pendekatan yang lebih sederhana.
Perangkat ini menggunakan Firefly Nano Engine dengan tampilan monokrom hijau. Sistem tersebut dipadukan dengan Blue Lake diffractive waveguide.
RayNeo mengklaim tingkat transparansi optiknya mencapai 97 persen. Kecerahan layar dapat mencapai 1.300 nits pada level mata, dengan bidang pandang sekitar 23,5 derajat.
RayNeo kini juga memasarkan layar iO sebagai 33-inch transparent display. Ukuran tersebut merupakan ekuivalensi optik, bukan layar fisik berukuran 33 inci. RayNeo menyebutnya setara melihat layar 33 inci dari jarak sekitar dua meter.
Artinya, iO bukan pengganti monitor.
Layar tersebut lebih cocok untuk menampilkan informasi singkat seperti notifikasi, jadwal, caption, navigasi, jawaban AI, dan teks teleprompter tanpa membuat pengguna terus menunduk melihat smartphone.
Tanpa Kamera, Justru Jadi Nilai Jual
RayNeo mengambil keputusan desain yang cukup berbeda.
iO tidak memiliki kamera.
Perangkat ini juga tidak menggunakan speaker konvensional. Sebagai gantinya, RayNeo mengandalkan empat mikrofon dan sensor bone conduction untuk menangkap suara pengguna.
Pendekatan tersebut membuat iO lebih berfokus pada informasi visual dan interaksi suara, bukan mengambil foto atau merekam video.
Ketiadaan kamera juga menjadi nilai tambah untuk privasi.
Pengguna tidak perlu membawa sensor kamera yang aktif di wajah ketika sedang berada dalam rapat, kelas, atau percakapan dengan orang lain. RayNeo sendiri memasarkan iO dengan konsep privacy by design.
BACA JUGA:Yamaha Aerox 155 vs Aerox Alpha 2026: Skutik Sporty dengan Teknologi TURBO & Y-Connect
AI Bisa Menjawab Langsung di Depan Mata
RayNeo iO membawa asisten AI yang dapat diakses melalui perintah suara.
Pengguna dapat memanggil perangkat menggunakan perintah “Hey, RayNeo”, kemudian memperoleh informasi langsung melalui display transparan.
Dukungan AI mencakup RayNeo AI dan Gemini 3.1 Flash Lite. RayNeo juga menawarkan pilihan model AI lain seperti ChatGPT, Claude, DeepSeek, Kimi, dan Qwen.
Namun, akses sejumlah model tambahan dapat membutuhkan layanan berlangganan.
Ini membuat iO menarik bukan karena bisa menggantikan smartphone, melainkan karena mampu mengurangi frekuensi pengguna mengambil smartphone untuk tugas-tugas kecil.
Bisa Terjemahkan Bahasa Secara Real-Time
Salah satu fitur yang berpotensi paling berguna untuk traveler adalah live translation.
RayNeo menyebut iO mendukung terjemahan hingga 55 bahasa dan 109 aksen. Hasil terjemahan ditampilkan langsung pada layar kacamata.
Ada sedikit perbedaan angka pada materi RayNeo untuk fitur tertentu. Dokumentasi produknya juga menyebut dukungan Live Captions pada cakupan bahasa tertentu, sehingga jumlah bahasa dapat bergantung pada mode dan layanan yang digunakan.
Dengan konsep tersebut, pengguna tidak perlu terus berpindah pandangan antara lawan bicara dan layar smartphone.
BACA JUGA:7 Motor Neo Retro Terbaik 2026: Gaya Klasik, Teknologi Modern, Harga Masih Ramah di Kantong!
Teleprompter Tak Perlu Lihat Monitor
Fitur lain yang menarik adalah AI Teleprompter.
Teks dapat ditampilkan langsung pada layar iO dan kecepatannya disesuaikan dengan ritme bicara pengguna.
Fitur ini jelas menyasar presenter, pembicara, kreator konten, mahasiswa, hingga pekerja yang sering melakukan presentasi.
RayNeo menyebut sistemnya menggunakan teknologi pelacakan suara untuk menyesuaikan guliran teks dengan tempo bicara secara natural.
Baterai Diklaim Bertahan Hingga Dua Hari
RayNeo iO membawa baterai berkapasitas 240mAh.
RayNeo mengklaim daya tahan hingga dua hari untuk penggunaan sehari-hari. Namun, penggunaan fitur tertentu secara intensif tentu akan mengurangi durasi tersebut.
Perangkat juga membawa Bluetooth 5.4, sertifikasi IP54, serta kontrol fisik Smart Crown pada bagian tangkai.
Pengguna dapat mengoperasikan sejumlah fungsi melalui crown dan gestur kepala.
BACA JUGA:Mazda CX-60: SUV Premium Elegan dengan Teknologi Modern dan Driving Experience Kuat
Spesifikasi RayNeo iO
| Spesifikasi | RayNeo iO |
|---|---|
| Bobot | 33 gram |
| Display | Firefly Nano Engine |
| Warna layar | Monokrom hijau |
| Waveguide | Blue Lake diffractive waveguide |
| Transparansi | Hingga 97% |
| Kecerahan | Hingga 1.300 nits |
| FOV | 23,5 derajat |
| Display ekuivalen | 33 inci dari jarak 2 meter |
| Kamera | Tidak ada |
| Speaker | Tidak ada |
| Mikrofon | 4-mic array |
| AI | RayNeo AI, Gemini 3.1 Flash Lite, multi-model |
| Terjemahan | Hingga 55 bahasa dan 109 aksen |
| Baterai | 240mAh |
| Konektivitas | Bluetooth 5.4 |
| Kontrol | Smart Crown dan head gestures |
| Ketahanan | IP54 |
| Warna | Polar Night dan Dune |
| Harga | US$499, standard case |
| Charging Case Bundle | US$549 |
RayNeo iO Cocok untuk Siapa?
RayNeo iO bukan smart glasses untuk semua orang.
Perangkat ini lebih menarik bagi pengguna yang membutuhkan informasi cepat tanpa harus membuka smartphone.
Presenter dapat memanfaatkan teleprompter. Traveler bisa menggunakan terjemahan. Pekerja dapat memanfaatkan AI dan rangkuman rapat. Sementara pengguna sehari-hari dapat memperoleh notifikasi dan informasi singkat langsung di depan mata.
Sebaliknya, pengguna yang menginginkan kacamata untuk mengambil foto, merekam video, mendengarkan musik, atau menikmati pengalaman AR imersif sebaiknya melihat produk lain.
RayNeo sendiri menempatkan iO sebagai kacamata AI untuk produktivitas, bukan perangkat hiburan.
Kesimpulan
RayNeo iO memperlihatkan arah berbeda dalam perkembangan smart glasses.
Alih-alih memasukkan sebanyak mungkin fitur ke dalam satu perangkat, RayNeo memilih mengurangi komponen seperti kamera dan speaker untuk memaksimalkan layar informasi, AI, dan produktivitas.
Dengan bobot 33 gram, transparansi optik 97 persen, layar HUD, penerjemahan bahasa, teleprompter, serta dukungan berbagai model AI, iO punya posisi yang cukup unik.
Harga mulai US$499 membuatnya masuk kategori premium. Namun, bagi pengguna yang sering bekerja dengan informasi, presentasi, rapat, atau perjalanan lintas bahasa, konsep RayNeo iO bisa terasa lebih masuk akal dibanding smart glasses yang sekadar menjadi kamera mini di wajah.