bacakoran.co – perbedaan kebiasaan di kamar mandi antara masyarakat peradaban barat dan timur selalu menjadi perbincangan kultural yang tak pernah ada habisnya.
jika masyarakat di negara-negara asia dan timur tengah terbiasa membersihkan diri setelah buang hajat menggunakan kucuran air, orang-orang di negara barat justru secara eksklusif memilih menggunakan tisu toilet kering.
fenomena yang kerap membuat gegar budaya (culture shock) bagi para pelancong ini ternyata bukan sekadar masalah selera kebersihan semata, melainkan hasil dari evolusi panjang yang dipengaruhi oleh kondisi iklim ekstrem, perbedaan pola konsumsi makanan, hingga sejarah masifnya revolusi industri sejak tahun 1890.
mengapa air dianggap "musuh" di toilet negara barat?
bagi kamu yang pernah berlibur atau menempuh pendidikan di eropa maupun amerika serikat, pasti pernah merasakan kepanikan kecil saat masuk ke bilik toilet.
tidak ada gayung, tidak ada selang bidet (shower cebok), dan tidak ada ember.
yang tersisa hanyalah gulungan kertas putih di dinding.
ketiadaan fasilitas air ini seringkali disalahartikan oleh masyarakat timur sebagai bentuk kemalasan atau kurangnya standar kebersihan. padahal, kebiasaan ini lahir dari kondisi alamiah yang memaksa mereka beradaptasi sejak ratusan tahun lalu.
1. hawa dingin yang menusuk tulang
faktor cuaca adalah alasan paling fundamental.
di negara-negara dengan empat musim, suhu saat musim dingin bisa turun drastis hingga mencapai minus derajat celcius.
dalam kondisi cuaca beku tersebut, bersentuhan dengan air sekalipun hanya untuk cebok adalah sebuah siksaan fisik.
berbeda dengan kita di negara beriklim tropis yang justru merasa gerah jika tidak terkena air, masyarakat di negara dingin secara alami menghindari kontak dengan air untuk menjaga suhu tubuh mereka tetap hangat.
pada masa lalu, sebelum sistem pemanas air otomatis (water heater) menjadi standar di setiap rumah, cebok menggunakan air es yang nyaris membeku di dalam pipa tentu bukanlah pilihan yang masuk akal.
2. pola konsumsi makanan rendah serat
alasan kedua yang tidak kalah mengejutkan adalah perbedaan struktur anatomi kotoran manusia yang sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka makan.
masyarakat di negara barat pada umumnya memiliki pola diet atau konsumsi makanan yang didominasi oleh daging merah, gandum olahan, dan produk susu (keju, mentega), yang mana semua ini tergolong rendah serat.
diet rendah serat ini menghasilkan kotoran yang memiliki volume lebih sedikit, lebih padat, dan memiliki kadar air yang sangat rendah.
karena teksturnya yang kering, kotoran tersebut cenderung tidak meninggalkan banyak residu yang lengket di area kulit, sehingga membersihkannya dengan selembar tisu saja dirasa sudah cukup praktis.
sebaliknya, masyarakat asia, afrika, dan timur tengah cenderung mengonsumsi makanan yang sangat kaya akan serat, rempah-rempah, sayuran, dan air
pola makan tinggi serat menghasilkan kotoran yang lebih besar, lembut, dan basah.
alhasil, metode air menjadi satu-satunya jalan terbaik dan paling efektif untuk membersihkan sisa-sisa kotoran yang menempel.
sejarah panjang tisu: ditemukan di timur, diklaim oleh barat
sobat mungkin berpikir bahwa tisu toilet adalah penemuan jenius dari bangsa eropa atau amerika. faktanya, sejarah mencatat hal yang berlawanan.
dalam riset sejarah berjudul "toilet hygiene in the classical era", jejak penggunaan kertas atau tisu sebagai pembersih kotoran justru terdeteksi pertama kali di china pada abad ke-6 masehi.
bangsa china yang pertama kali menemukan kertas, mengembangkan inovasi tersebut menjadi kertas khusus kebersihan untuk keluarga kekaisaran.
sementara itu, pada era yang sama, masyarakat barat (seperti di era romawi kuno) justru menggunakan alat bantu berupa tersorium, yakni spons yang diikatkan pada ujung tongkat, yang kemudian direndam dalam air garam atau cuka setelah digunakan.
bahkan, ada juga yang menggunakan batu, daun, hingga kerang.
awal mula masuknya tisu ke eropa
jejak penggunaan tisu toilet baru mulai muncul di dunia barat pada abad ke-16.
seorang sastrawan terkenal asal prancis, francois rabelais, adalah tokoh pertama yang menyinggung penggunaan kertas di toilet dalam karya sastranya.
ironisnya, rabelais saat itu justru mengkritik bahwa kertas tidak efektif digunakan untuk cebok.
namun, titik balik yang mengubah budaya barat selamanya terjadi pada akhir abad ke-19.
seiring dengan revolusi industri, kepopuleran tisu meledak berkat kemunculan masif pabrik-pabrik kertas.
inovasi tisu dalam bentuk gulungan (roll) yang diciptakan pada tahun 1890 membuat produk ini sangat murah, mudah didistribusikan, dan menjadi simbol kebersihan modern di negara-negara maju kala itu.
sejak saat itulah, tisu toilet menjadi standar emas peradaban barat dan menggeser metode kebersihan konvensional lainnya.