Hari Tanpa Bayangan di Sumsel 30 September-4 Oktober 2026, Ini 17 Wilayah dan Jadwalnya
Hari Tanpa Bayangan di Sumsel terjadi 30 September-4 Oktober 2026--selalu.id--
BACA KORAN.CO – Fenomena Hari Tanpa Bayangan atau Kulminasi Matahari akan terjadi di 17 wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) mulai 30 September hingga 4 Oktober 2026.
Fenomena ini terjadi ketika posisi Matahari berada tepat di atas kepala atau mendekati titik zenit pengamat. Akibatnya, bayangan benda tegak terlihat sangat pendek atau seolah menghilang karena bertumpuk dengan benda tersebut.
Berdasarkan data BMKG Sumsel, waktu kulminasi di berbagai wilayah tersebut berlangsung selama beberapa menit. Rentang waktunya berada sekitar pukul 11.50 hingga 12.00 WIB.
BACA JUGA:Fenomena Baru: Gen Z dan Milenial Jadikan AI Tempat Curhat Aman Tanpa Hakim
Apa Itu Hari Tanpa Bayangan?
Kepala BMKG Sumsel Wandayantolis menjelaskan, kulminasi atau transit merupakan fenomena ketika Matahari berada pada posisi tertinggi di langit.
Fenomena kulminasi utama terjadi ketika deklinasi Matahari sama dengan lintang pengamat. Pada kondisi tertentu, Matahari dapat berada tepat di atas kepala sehingga bayangan benda tegak jatuh hampir tepat di bawah benda tersebut.
Kondisi inilah yang kemudian dikenal masyarakat sebagai Hari Tanpa Bayangan.
Fenomena tersebut berkaitan dengan gerak semu tahunan Matahari. Dalam pergerakannya, posisi semu Matahari melintasi wilayah tertentu ketika bergerak dari belahan Bumi utara menuju selatan dan sebaliknya.
BACA JUGA:Fenomena Slow Living 2026: Cara Hidup Lebih Tenang di Tengah Hiruk Pikuk Kota
Jadwal Hari Tanpa Bayangan di 17 Wilayah Sumsel
Fenomena kulminasi Matahari tidak terjadi serentak di seluruh wilayah Sumsel. Waktu kejadiannya berbeda berdasarkan posisi geografis masing-masing daerah.
Berikut jadwal Hari Tanpa Bayangan di Sumsel berdasarkan data BMKG Sumsel 2026:
| Tanggal | Wilayah |
|---|---|
| 30 September 2026 | Palembang, Muara Rupit (Muratara), Sekayu (Muba), Pangkalan Balai (Banyuasin) |
| 1 Oktober 2026 | Lubuk Linggau, Muara Beliti (Mura), Talang Ubi (PALI), Indralaya (Ogan Ilir) |
| 2 Oktober 2026 | Tebing Tinggi (Empat Lawang), Muara Enim, Prabumulih, Kayu Agung (OKI) |
| 3 Oktober 2026 | Pagaralam, Baturaja (OKU), Lahat |
| 4 Oktober 2026 | Muaradua (OKU Selatan), Martapura (OKU Timur) |
Dengan demikian, masyarakat di 17 wilayah tersebut memiliki kesempatan menyaksikan fenomena astronomi ini sesuai jadwal masing-masing daerah.
Kulminasi Matahari Terjadi Sekitar Tengah Hari
Menurut BMKG Sumsel, fenomena kulminasi berlangsung hanya selama beberapa menit.
Waktu yang diperkirakan berada dalam rentang 11.50–12.00 WIB. Pada periode tersebut, posisi Matahari berada sangat tinggi dan bayangan benda akan menjadi sangat pendek.
Jika berdiri di bawah sinar Matahari pada waktu kulminasi, bayangan tubuh dapat terlihat berada tepat di bawah kaki. Inilah yang membuatnya seolah-olah tidak memiliki bayangan.
Namun, waktu tersebut merupakan rentang fenomena berdasarkan wilayah. Masyarakat sebaiknya memperhatikan informasi BMKG setempat untuk mendapatkan waktu pengamatan yang lebih tepat.
BACA JUGA:Fenomena Waktu yang Cepat dalam Islam, Apakah Tanda Akhir Zaman?
Mengapa Hari Tanpa Bayangan Bisa Terjadi?
Fenomena ini berkaitan dengan posisi relatif Matahari terhadap Bumi.
Dalam pergerakan semu tahunannya, Matahari tampak bergerak dari utara menuju selatan dan kemudian kembali ke utara. Jalur tersebut membuat Matahari melintasi wilayah-wilayah tertentu di permukaan Bumi.
Ketika posisi Matahari berada tepat di atas lokasi pengamat, sinar Matahari datang hampir tegak lurus. Bayangan benda akhirnya berada tepat di bawah benda tersebut.
Sumsel termasuk wilayah yang dapat mengalami fenomena tersebut karena letaknya berada di kawasan tropis.
Apakah Hari Tanpa Bayangan Membuat Suhu Lebih Panas?
Kulminasi Matahari dapat membuat intensitas radiasi Matahari terasa lebih kuat. Kondisi tersebut berpotensi membuat permukaan dan udara terasa lebih panas dibandingkan waktu lainnya.
Meski demikian, suhu udara pada saat fenomena berlangsung tidak hanya dipengaruhi posisi Matahari.
Awan, kelembapan, angin, kondisi permukaan, serta faktor cuaca lainnya juga berpengaruh terhadap suhu yang dirasakan masyarakat.
Karena itu, Hari Tanpa Bayangan tidak otomatis berarti suhu udara akan mencapai kondisi ekstrem.
Bisa Menjadi Penanda Musim dan Pertanian
Fenomena kulminasi juga memiliki nilai dalam kehidupan masyarakat.
Menurut BMKG Sumsel, fenomena Matahari dapat menjadi salah satu penanda perubahan musim. Di sejumlah daerah, posisi Matahari secara tradisional digunakan sebagai salah satu patokan dalam aktivitas pertanian.
Namun, dalam praktik pertanian modern, informasi musim tetap perlu mempertimbangkan data cuaca dan iklim yang lebih lengkap.
Kulminasi Matahari Terjadi Dua Kali Setahun
Secara umum, fenomena kulminasi dapat terjadi dua kali dalam setahun di wilayah tertentu.
Namun, tanggal terjadinya tidak selalu sama untuk setiap lokasi. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh letak lintang masing-masing wilayah.
Di Palembang, misalnya, fenomena kulminasi utama dijadwalkan terjadi pada 30 September 2026. Fenomena serupa sebelumnya terjadi sekitar periode Maret.
Masyarakat yang ingin mengamati Hari Tanpa Bayangan dapat memanfaatkan benda tegak seperti tiang atau tubuh sendiri sebagai objek pengamatan.
Pengamatan sebaiknya dilakukan dalam waktu singkat dan tetap memperhatikan kondisi cuaca serta keselamatan dari paparan sinar Matahari.