Kurs Dolar Hari Ini 6 Oktober 2026: USD Dekati Level Terkuat, Rupiah Tertekan
Kurs Dolar Hari Ini 6 Oktober 2026: USD Dekati Level Terkuat, Rupiah Tertekan--bacakoran--
BACAKORAN.CO – Kurs dolar AS terhadap rupiah berada di level Rp17.945 per USD pada perdagangan 6 Oktober 2026. Dolar AS masih mendapat dukungan dari permintaan aset safe haven, sementara harga minyak dunia bergerak turun setelah Arab Saudi memangkas harga minyak untuk pembeli di Asia.
Pergerakan pasar juga dipengaruhi perkembangan perdagangan global. Eropa tengah memperkuat instrumen untuk menghadapi potensi gangguan perdagangan dengan China dan negara lainnya.
Kurs Dolar Hari Ini 6 Oktober 2026
Berdasarkan data kurs yang diterima, USD berada pada posisi Rp17.875 untuk kurs beli dan Rp17.945 untuk kurs jual.
Selisih antara kurs beli dan jual mencapai Rp70 per dolar AS.
Posisi tersebut menunjukkan rupiah masih berada di sekitar level Rp17.900 per dolar AS. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi sentimen global, kondisi pasar obligasi AS, serta arah indeks dolar.
Permintaan terhadap dolar juga mendapat dukungan dari investor yang mencari aset relatif aman di tengah ketidakpastian fiskal dan geopolitik.
BACA JUGA:USD Menguat, Rupiah Tertekan: Cek Kurs dan Harga Emas Hari Ini
Daftar Kurs Mata Uang Asing terhadap Rupiah
Berikut data kurs V1 yang diterima:
| Mata Uang | Kurs Beli | Kurs Jual |
|---|---|---|
| USD | Rp17.875 | Rp17.945 |
| SGD | Rp13.951 | Rp14.051 |
| HKD | Rp2.275,01 | Rp2.289,52 |
| CHF | Rp21.478 | Rp21.637 |
| JPY | Rp113,02 | Rp113,94 |
| CAD | Rp12.513 | Rp12.600 |
| CNY | Rp2.657,42 | Rp2.687,92 |
| THB | Rp528,25 | Rp536,02 |
| SAR | Rp4.755,11 | Rp4.786,58 |
| KRW | Rp13,20 | Rp13,63 |
| MYR | Rp4.364,45 | Rp4.403,72 |
| GBP | Rp23.601 | Rp23.766 |
| AUD | Rp12.436 | Rp12.531 |
| NZD | Rp9.992 | Rp10.073 |
| EUR | Rp20.032 | Rp20.173 |
Kurs dapat berubah mengikuti kondisi pasar dan kebijakan masing-masing penyedia layanan valuta asing.
BACA JUGA:Kurs Rupiah Hari Ini Tertekan, Dolar AS Menguat Jelang FOMC dan Harga Minyak Naik
Dolar AS Mendekati Level Terkuat Tahun Ini
Penguatan dolar terjadi ketika investor meningkatkan perhatian terhadap risiko fiskal dan politik di sejumlah negara.
Dolar menjadi salah satu aset yang banyak dicari ketika ketidakpastian meningkat.
Perkembangan di Eropa juga menjadi perhatian pasar. Jerman dan Prancis mendorong Uni Eropa memperkuat kewenangan menghadapi potensi gangguan perdagangan.
Salah satu gagasan yang berkembang adalah pembatasan akses ke pasar tunggal Eropa jika negara lain dinilai mengganggu hubungan perdagangan.
Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap aset Eropa dan mata uang utama.
Harga Minyak Dunia Mulai Turun
Harga minyak dunia bergerak turun pada perdagangan 6 Oktober.
Data pasar menunjukkan Brent sekitar US$100,28 per barel, sedangkan WTI sekitar US$89,33 per barel pada awal perdagangan.
Salah satu perhatian pasar berasal dari keputusan Arab Saudi memangkas harga resmi minyak mentah untuk pembeli di Asia.
Saudi Aramco menetapkan harga November untuk Arab Light di Asia sebesar US$5 per barel di bawah rata-rata benchmark Oman-Dubai. Diskon tersebut turun US$3 dibanding bulan sebelumnya dan menjadi yang terlebar sejak Juni 2020.
Penurunan harga tersebut terjadi ketika ekspor minyak Timur Tengah mulai pulih. Kondisi pasokan yang lebih baik membantu meredakan sebagian tekanan harga.
Namun, risiko geopolitik masih menjadi perhatian. Gangguan terhadap jalur pelayaran dan fasilitas energi di kawasan Timur Tengah tetap berpotensi memicu volatilitas harga minyak.
BACA JUGA:Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Ole: Kami Sangat Bangga!
Apa Dampaknya bagi Rupiah?
Harga minyak yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi negara pengimpor energi.
Namun, pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan harga minyak. Dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, arus modal, dan sentimen pasar global juga memiliki pengaruh besar.
Pada perdagangan Selasa, 6 Oktober, rupiah di pasar NDF terpantau menguat tipis 0,04% ke sekitar Rp17.933 per dolar AS. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan rupiah masih cukup kuat meski harga minyak mulai terkoreksi.
Eropa dan China Jadi Perhatian Pasar
Hubungan perdagangan Eropa dan China turut menjadi perhatian investor.
Jerman dan Prancis mendorong Uni Eropa memperkuat instrumen perdagangan. Salah satu usulnya adalah memberikan kewenangan untuk membatasi akses pasar tunggal jika terjadi gangguan perdagangan.
Pasar masih menunggu perkembangan lebih lanjut mengenai apakah gagasan tersebut akan menjadi kebijakan resmi Uni Eropa.
Jika ketegangan perdagangan meningkat, sentimen terhadap ekonomi global dan mata uang utama dapat kembali berubah.
Emas Tetap Jadi Aset yang Diperhatikan
Selain dolar dan minyak, emas juga menjadi perhatian investor.
Data komoditas yang diterima menunjukkan XAU berada di level 4.136,86.
Emas dan dolar sama-sama dapat menjadi perhatian ketika pasar menghadapi ketidakpastian. Namun, keduanya tetap memiliki faktor penggerak berbeda.
Arah emas dan dolar selanjutnya akan bergantung pada ekspektasi suku bunga, kondisi fiskal, geopolitik, serta arus dana global.
Kurs Dolar Selanjutnya Masih Dipengaruhi Sentimen Global
Kurs dolar hari ini menunjukkan rupiah masih menghadapi tekanan di sekitar level Rp17.900.
Di sisi lain, penurunan harga minyak memberikan sedikit ruang bagi pasar karena pasokan Timur Tengah mulai membaik.
Investor selanjutnya akan mencermati perkembangan hubungan dagang Eropa-China, kondisi fiskal negara maju, harga minyak, serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Bagi masyarakat dan pelaku usaha, pergerakan USD tetap penting diperhatikan karena dapat memengaruhi harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, hingga biaya produksi yang menggunakan bahan baku dari luar negeri.