Burung yang disebut dalam Alquran? Makna dan Pandangan, Burung Kedasih dalam Ajaran Islam

Senin 10 Aug 2026 - 14:00 WIB
Reporter : djarwo
Editor : djarwo

BACAKORAN.CO - Burung Kedasih atau nama ilmiah Cacomantis merulinus yang dijuluki "burung pembawa pertanda kematian" ternyata BUKAN pembawa sial menurut Islam! Berdasarkan data terkini, kedasih masuk daftar IUCN berstatus "Risiko Rendah" dengan populasi yang masih stabil di Asia Tenggara. Suara khasnya yang melengking justru mengandung pesan kebesaran Allah. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Burung Kedasih adalah salah satu jenis burung yang kerap kali menjadi perbincangan hangat, terutama dalam konteks ajaran Islam dan kepercayaan masyarakat. Burung Kedasih dalam ajaran Islam memiliki beberapa makna dan pandangan yang perlu diluruskan agar tidak keliru dengan mitos yang beredar.

Meskipun tidak ada ketentuan khusus dalam Islam terkait dengan burung Kedasih secara rinci, kita sebagai umat Islam dianjurkan untuk menghargai dan menjaga kelestarian mereka sebagai salah satu ciptaan Allah SWT. Kita juga dapat mengambil hikmah dari keberadaan burung Kedasih dalam meningkatkan keimanan dan menjaga keharmonisan alam semesta yang Allah ciptakan.

Berikut ini adalah penjelasan lengkap tentang burung Kedasih menurut ajaran Islam:

BACA JUGA:5 Hewan Mistis yang Dipercaya di Indonesia: Ada Kucing Hitam dan Burung Gagak

1. Tidak Ada Penyakit atau Sial yang Ditularkan Burung Kedasih

Menurut yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa tidak ada penyakit yang menular dan tidak pula pertanda sial dari burung, termasuk burung Kedasih. Hal ini menunjukkan bahwa burung Kedasih tidak memiliki kekuatan magis atau supranatural yang dapat mempengaruhi kesehatan maupun nasib seseorang.

Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW:

    "Tidak ada penyakit menular dan tidak ada Thiyarah (merasa sial karena burung dan sejenisnya), dan saya menyukai ucapan yang baik." (HR. Bukhari & Muslim)

2. Bukan Burung Penentu Nasib — Nasib Hanya Atas Ketetapan Allah

Dalam beberapa tradisi masyarakat, burung Kedasih dianggap sebagai burung penentu nasib baik dan buruk, bahkan dipercaya sebagai pertanda kematian atau musibah. Namun, dalam Islam kepercayaan ini tidak memiliki dasar yang kuat.

Nasib baik dan buruk seseorang ditentukan oleh takdir dan ketetapan Allah SWT semata, bukan oleh burung atau makhluk lainnya. Suara burung kedasih yang khas itu hanyalah sifat alaminya, bukan pertanda sesuatu yang buruk.

BACA JUGA:8 Benda Pelaris Dagangan Alami yang Banyak Dicari: Mitos, Tradisi, atau Pembawa Hoki?

3. Mengingatkan pada Keindahan dan Kebesaran Ciptaan Allah

Dalam ibadah dan kehidupan sehari-hari, burung Kedasih dapat dijadikan sebagai pengingat bagi umat Islam untuk senantiasa mencintai keindahan yang telah Allah ciptakan. Suara merdu dan khas burung Kedasih dapat menginspirasi manusia untuk menghargai, bersyukur, dan merenungkan kebesaran-Nya.

Keindahan suara dan keunikan perilaku kedasih adalah nikmat Allah yang patut disyukuri, bukan ditakuti.

4. Tidak Disebutkan Secara Eksplisit dalam Al-Qur'an

Burung Kedasih tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an maupun hadis sahih dengan nama khusus. Ada beberapa tafsir yang mengaitkan burung Kedasih dengan salah satu jenis burung yang disebutkan dalam Al-Qur'an, namun interpretasi tersebut bersifat subjektif dan belum ada kesepakatan ulama.

Islam mengajarkan kita untuk tidak terikat pada mitos tanpa dasar, dan kembali kepada Al-Qur'an serta hadis sebagai pedoman utama.

5. Menjaga Kelestarian sebagai Ciptaan Allah

Kategori :