Meski tidak ikut rekreasi sekolah, Intan tetap dikenai pungutan.
“Saya malu terhadap teman-teman sekolah pak, karena saat ditagih utang sebesar Rp350.000 oleh pihak sekolah saya tidak mampu membayar,” ungkap Intan sambil menangis pada Jumat (18/7/2025).
Lebih memilukan lagi, hingga kini pihak sekolah belum pernah mendatangi keluarga Intan atau berusaha mengajaknya kembali ke bangku sekolah.
Intan masih menyimpan harapan untuk melanjutkan pendidikan.
BACA JUGA:Polisi di Kupang Lecehkan Siswi SMK Saat Razia Gegara Korban Tak Dapat Bayar Denda Tilang
“Saya masih ingin sekolah Pak, walaupun orang tua saya orang tak mampu. Cita-cita saya sangatlah tinggi,” tambahnya.
Abdul Siregar, perwakilan dari pihak sekolah, membenarkan keberadaan tagihan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa biaya sewa bus untuk rekreasi diputuskan melalui musyawarah bersama wali murid.
Namun, semua siswa tetap dikenai iuran, tanpa membedakan apakah mereka ikut atau tidak.
“Semua siswa-siswi yang terdata, baik ikut atau tidak, sama-sama dibebani biayanya agar terpenuhi sewa bus,” ujarnya, dikutip dari BeritaSatuNews dan MitraMabes.
BACA JUGA:Diduga Buru-buru ke Sekolah, Motor Siswi SMA Negeri 1 Muara Beliti Terbalik, 1 Korban Tewas
Namun tak ada penjelasan lebih lanjut mengenai mekanisme bantuan atau pengecualian bagi siswa kurang mampu.
Respons Publik dan Seruan Keadilan
Kisah Intan memicu kritik keras dari berbagai kalangan, termasuk netizen yang mempertanyakan sensitivitas pemerintah terhadap kemiskinan dan akses pendidikan.
"Astaghfirullah...ketika melihat pejabat Indonesia dengan santai bilang kalau kemiskinan menurun, ternyata mata hatinya tertutup, kesusahan rakyat sampai pendidikannya hilang."