BACAKORAN.CO - Ketika membeli mobil, kebanyakan orang lebih banyak mengandalkan review otomotif yang membahas performa, fitur, dan kenyamanan.
Namun, ada satu aspek krusial yang sering terlewatkan, yaitu biaya depresiasi.
Depresiasi adalah penurunan nilai kendaraan dari waktu ke waktu, dan faktanya, inilah biaya terbesar yang harus ditanggung pemilik selama masa kepemilikan.
Memahami depresiasi sangat penting agar konsumen dapat membuat keputusan yang lebih bijak, terutama jika tujuan membeli mobil bukan sekadar gaya hidup, melainkan juga investasi jangka panjang.
Data dan Metodologi
BACA JUGA:BMW X3 2026 Hadir di Indonesia, SUV Premium dengan Mesin Turbo 2.0 Liter dan Fitur ADAS Lengkap
BACA JUGA:BMW X1 Generasi Keempat 2026, SUV Kompak dengan Pilihan Mesin Turbo dan Varian Listrik Bertenaga
Untuk meneliti fenomena ini, sebuah tim mengumpulkan data harga puluhan merek mobil dari tahun 2015, 2020, hingga 2024.
Analisis mencakup berbagai kategori, mulai dari mobil mewah seperti Mercedes-Benz dan BMW, mobil listrik seperti Hyundai Ioniq dan Wuling, hingga mobil populer yang banyak digunakan masyarakat seperti Toyota Avanza, Toyota Calya, Honda Brio, Mitsubishi Xpander, dan Mitsubishi Pajero.
Hasilnya cukup mengejutkan: ada mobil yang nilainya tinggal 24% dari harga awal setelah sembilan tahun, sementara ada juga yang masih mampu bertahan hingga 65%.
Variasi ini menunjukkan betapa pentingnya memahami tren depresiasi sebelum memutuskan membeli kendaraan.
Mobil Mewah: Depresiasi Tinggi
Kategori mobil luxury menunjukkan depresiasi paling tajam.
Mercedes-Benz S-Class, misalnya, yang dijual Rp2,3 miliar pada 2015, hanya bernilai sekitar Rp720 juta di 2024.
Artinya, nilai mobil ini menyusut hampir 69% dalam sembilan tahun.
BMW juga mengalami hal serupa. BMW 3 Series yang awalnya Rp740 juta kini hanya bernilai Rp323 juta, sementara BMW 7 Series dari Rp2,8 miliar turun menjadi sekitar Rp600 juta.
Kesimpulannya, mobil mewah bukanlah pilihan bijak jika tujuan utama adalah mempertahankan nilai jual kembali.