BACAKORAN.CO - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat drastis setelah Amerika Serikat memutuskan menutup Kedutaan Besarnya di Bahrain menyusul serangan rudal Iran yang menargetkan pangkalan militer AS di wilayah tersebut.
Keputusan ini menjadi sinyal kuat bahwa situasi keamanan di kawasan Teluk Persia sedang berada dalam kondisi genting dan penuh ketidakpastian.
Penutupan Kedutaan Besar AS di Bahrain diumumkan secara resmi pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Dalam pernyataannya, pihak kedutaan menyebut langkah tersebut diambil sebagai respons terhadap serangan rudal yang sedang berlangsung dan potensi ancaman keamanan lanjutan.
“Kedutaan Besar AS di Bahrain akan tutup pada Minggu, 1 Maret 2026, mengingat serangan rudal yang sedang berlangsung,” demikian pernyataan resmi pihak kedutaan.
Serangan rudal Iran dilaporkan menyasar fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain, termasuk markas Armada Kelima Angkatan Laut AS yang berbasis di ibu kota Manama.
Bahrain selama ini merupakan salah satu sekutu strategis Washington di kawasan Teluk dan memiliki peran penting dalam operasi militer Amerika di Timur Tengah.
United States Navy Fifth Fleet yang bermarkas di Bahrain memiliki tanggung jawab mengamankan jalur laut strategis, termasuk Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
BACA JUGA:Geger, Sosial Media Pelaku Pembacokan Mahasiswi UIN Suska Riau Bikin Heboh Warganet, Ada Apa?
Beberapa laporan menyebutkan rentetan ledakan terdengar di sekitar wilayah pangkalan militer tersebut. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan kepulan asap tebal yang diduga berasal dari area fasilitas militer AS.
Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi konflik setelah sebelumnya Amerika Serikat dan Israel melakukan operasi militer terhadap target di wilayah Iran.
Sebagai langkah pengamanan, Kedutaan Besar AS langsung membatalkan seluruh layanan konsuler, baik yang bersifat reguler maupun darurat.
Penutupan ini berdampak pada berbagai layanan penting, seperti:
- Pengurusan visa