BACAKORAN.CO - Iran memasuki fase politik baru setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam sebuah serangan udara yang mengguncang kawasan Timur Tengah.
Peristiwa tersebut tidak hanya memicu eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, tetapi juga membuka babak baru dalam kepemimpinan Republik Islam.
Majelis Ahli Iran akhirnya menetapkan Mojtaba Khamenei, putra mendiang pemimpin, sebagai pemimpin tertinggi baru.
Keputusan ini dianggap sebagai bukti bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali dalam struktur kekuasaan Iran.
Media setempat melaporkan bahwa penunjukan Mojtaba dilakukan lebih dari sepekan setelah wafatnya sang ayah.
Ayatollah Mohsen Heidari Alekasir menegaskan bahwa pemilihan dilakukan sesuai arahan Ali Khamenei sebelum meninggal.
Ia menyatakan, "Kandidat dipilih berdasarkan arahan Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran seharusnya 'dibenci oleh musuh'," sebuah pesan yang menegaskan arah politik Iran tetap konfrontatif terhadap Barat.
Dalam pernyataannya, Heidari Alekasir juga menyinggung komentar Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menolak kemungkinan Mojtaba menjadi pemimpin Iran.
BACA JUGA:Israel Gempur Kilang Minyak Teheran, Api Mengguncang Iran
BACA JUGA:Gegara Cekcok saat Apel Pagi, Oknum Sekuriti di Touna Tikam Rekan Kerja hingga Tewas
"Bahkan Setan Besar [Amerika Serikat] pun telah menyebut namanya," ujarnya, merujuk pada pernyataan Trump yang menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang “tidak dapat diterima.”
Selama bertahun-tahun, Mojtaba dikenal sebagai sosok berpengaruh di balik layar pemerintahan ayahnya.
Ia memperkuat posisinya melalui kedekatan dengan aparat keamanan, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta jaringan bisnis besar yang berada di bawah pengaruh mereka.