Ia memperkuat posisinya melalui kedekatan dengan aparat keamanan, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta jaringan bisnis besar yang berada di bawah pengaruh mereka.
Mojtaba juga dikenal sebagai penentang kelompok reformis yang berupaya membuka hubungan dengan Barat, terutama dalam isu program nuklir.
Meski tidak pernah memegang jabatan resmi, Mojtaba berperan sebagai “penjaga gerbang” ayahnya.
Dukungan kuat dari IRGC, terutama generasi muda yang lebih radikal, membuatnya menjadi kandidat yang sulit ditandingi.
Namun, kritik terhadap politik dinasti tetap muncul, mengingat Iran pernah menggulingkan monarki pada 1979.
Mojtaba lahir pada 1969 di Mashhad, kota suci Syiah. Ia tumbuh dalam lingkungan politik yang penuh gejolak, sempat terlibat dalam perang Iran-Irak, dan menempuh pendidikan agama di Qom.
BACA JUGA:Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Sulap ART Jadi Dirut, Ini Tugas dan Perannya!
BACA JUGA:Hanya Bermodal Nik KTP, Bansos PKH dan BPNT Sudah Cair 90 Persen, Cek Info Penerima Disini!
Gelar keagamaan yang dimilikinya adalah Hojjatoleslam, satu tingkat di bawah Ayatollah.
Hal ini memicu perdebatan mengenai kredensial keagamaannya untuk menduduki posisi tertinggi.
Selain itu, Mojtaba pernah dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat pada 2019 karena dianggap mewakili kepentingan ayahnya dalam kapasitas resmi.
Washington menuduhnya bekerja sama dengan Pasukan Quds IRGC dan milisi Basij untuk memperkuat agenda regional Iran.
BACA JUGA:Tangis Sahabat Pecah di Pemakaman Vidi Aldiano, Dunia Hiburan Kehilangan Bintang!
BACA JUGA:Viral! Aksi 5 Mobil Konvoi Zig-Zag di Tol Becakayu, Para Pengemudi Minta Maaf: Hanya Sebatas Konten