BACAKORAN.CO - Penyerangan baru-baru ini oleh Israel terhadap ladang gas utama Iran, South Pars, memancing eskalasi perang di Timur Tengah.
Kemudian Iran membalas dengan memborbardir fasilitas minyak-gas di Qatar dan Arab Saudi.
Raksasa minyak Qatar, QatarEnergy, melaporkan "kerusakan luas" setelah rudal Iran menghantam Kota Industri Ras Laffan yang memproses sekitar seperlima pasokan gas global.
Arab Saudi ungkap sudah mencegat dan menghancurkan empat rudal balistik yang diluncurkan ke arah Riyadh pada Rabu (18/3) dan upaya serangan drone terhadap fasilitas gas di timurnya.
BACA JUGA:Kian Memanas, Iran Siapkan Rudal Haj Qasem, AS dan Israel Ketar ketir?
BACA JUGA:Selat Hormuz Tetap Dibuka Terbatas, Iran Izinkan Kapal Netral Melintas di Tengah Konflik
Pada Kamis (19/3/2026), Iran kembali menargetkan fasilitas gas Qatar dan rudalnya juga menargetkan ibu kota Saudi.
Presiden AS Donald Trump agaknya mulai kesal dengan situasi yang terjadi.
Dalam keterangan terbarunya, Trump mengatakan AS tak tahu-menahu dengan serangan Israel ke ladang gas terbesar Iran.
"Israel, karena marah atas apa yang telah terjadi di Timur Tengah, telah menyerang secara brutal sebuah fasilitas besar yang dikenal sebagai Ladang Gas South Pars di Iran," tulis Trump di X pada Rabu (18/3), dikutip dari Reuters, Kamis (19/3/2026).
BACA JUGA:Diplomat RI Temui Otoritas Iran Usai 2 Kapal Pertamina Tertahan di Hormuz!
BACA JUGA:Kian Memanas, Hamas Ingatkan Iran untuk Stop Serang Negara Teluk, Ini Alasannya!
Selanjutnya Trump ungkap Iran tak mengetahui soal ini, sehingga melancarkan balasan yang menurutnya tak adil ke fasilitas energi di Qatar.
Trump juga berusaha meredakan situasi dengan berjanji tak akan ada lagi serangan dari Israel ke South Pars.
"TIDAK AKAN ADA LAGI SERANGAN YANG DILAKUKAN OLEH ISRAEL terkait Ladang South Pars yang sangat penting dan berharga ini kecuali Iran dengan tidak bijak memutuskan untuk menyerang pihak yang sangat tidak bersalah, dalam hal ini, Qatar," kata Trump.