Namun strategi itu kini melunak menjadi sekadar janji bahwa AS tidak akan memaksakan pergantian rezim.
Doyle menggarisbawahi bahwa kepemimpinan AS kehilangan kendali.
Mengingat harga satu unit F-15 bisa mencapai US$100 juta, hilangnya F-15 dan A-10 Warthog secara bersamaan membuat kredibilitas negara adidaya itu terjun bebas.
Di sisi lain, Iran lebih leluasa menaikkan tensi eskalasi, serupa dengan sokongan mereka terhadap serangan rudal Houthi ke Israel beberapa waktu lalu.
Krisis Kemanusiaan: Operasi Misi Penyelamatan Kru F-15
Kabar jatuhnya F-15 dan A-10 Warthog tidak hanya soal kerugian mesin, tetapi juga menyisakan misteri nasib para pilot.
Pilot A-10 dilaporkan berhasil selamat, namun nasib kru tempur F-15 masih menggantung.
Laporan intelijen menyebut satu kru F-15 berhasil diselamatkan, sementara satu anggota lainnya berstatus hilang.
Walau Donald Trump bersikukuh insiden Iran tembak jatuh jet tempur AS ini tidak akan mengganggu proses negosiasi bilateral, militer AS di lapangan justru melancarkan operasi pencarian besar-besaran karena panik.
Memanfaatkan kekacauan konflik Iran Amerika ini, otoritas Teheran justru menggelar sayembara dengan imbalan besar bagi siapa saja yang berhasil menemukan pilot tersebut.
Laurel Rapp, pakar dari lembaga Chatham House, menegaskan bahwa pencarian ini merupakan misi krusial. Penangkapan tentara hidup-hidup akan memberikan Iran alat tawar-menawar geopolitik tingkat tinggi.
"Jika gambar-gambar itu muncul, itu akan sangat mengubah pandangan dari sudut pandang Amerika," ujar Laurel Rapp seperti dikutip BBC.
Agresi Berdarah di Wilayah Kohgiluyeh
Keputusasaan AS setelah peristiwa Iran tembak jatuh jet tempur AS terlihat makin beringas pada Minggu (5/4).
Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa skuadron udara AS membombardir sejumlah lokasi di Kohgiluyeh, Iran.
Serangan sporadis ini diyakini menyasar tempat persembunyian pilot F-15 dan A-10 Warthog yang disandera.