BACAKORAN.CO – Kasus pelecehan seksual FH UI yang melibatkan 16 mahasiswanya kini menjadi sorotan tajam setelah tangkapan layar dari sebuah komunikasi internal bocor ke media sosial.
Insiden kelam ini terkuak luas dalam sebuah forum terbuka pada Senin malam (13/4/2026), memicu kemarahan publik karena para mahasiswa diduga kuat menjadikan rekan, dosen hingga kerabat kandung sendiri sebagai objek pelecehan verbal.
Ironisnya terduga pelaku menyebut tindakan tak pantas di grup chat mahasiswa FH UI tersebut bermula dari sekadar niat bercanda untuk memancing obrolan, sebuah alasan yang tidak bisa dibenarkan dalam ranah hukum maupun etika.
Skandal ini membuka mata banyak pihak bahwa kekerasan seksual tidak selalu terjadi secara fisik, namun juga bisa berawal dari ketikan jari di ponsel.
Berdasarkan temuan di lapangan, kasus pelecehan seksual FH UI ini bermula dari percakapan tidak senonoh yang merendahkan martabat perempuan.
Dalih Niat Bercanda yang Berakhir Fatal
Para terduga pelaku yang tergabung dalam grup komunikasi tersebut kerap membicarakan area intim perempuan dengan menggunakan bahasa yang tidak pantas.
Saat kasus pelecehan seksual FH UI ini mencuat dan viral, salah satu terduga pelaku sempat memberikan bantahan dalam forum.
Mereka berdalih bahwa narasi yang dibangun murni berawal dari niat bercanda semata demi menghidupkan suasana obrolan.
Namun, rekam jejak digital tidak bisa dimanipulasi.
BACA JUGA:Geger! 16 Mahasiswa UI Diduga Lakukan Pelecehan Seksual, Percakapan Mesum Grup Chat Tersebar
Fakta di grup chat mahasiswa FH UI menunjukkan tingkat pelecehan verbal yang sangat parah.
Bahkan salah satu pelaku dilaporkan hanya diam dan tidak memberikan pembelaan ketika kakak kandungnya sendiri, yang juga berstatus mahasiswa di fakultas yang sama, dijadikan objek pelecehan oleh rekan-rekannya di dalam grup tersebut.
Dosen Syok: "Pas Saya Lihat Chatnya, Saya Kaget Ada Nama Saya"
Realitas paling mengejutkan dari kasus pelecehan seksual FH UI ini adalah rentang korban yang tidak hanya terbatas pada sesama mahasiswa.
Beberapa dosen turut menjadi objek pelecehan verbal. Dalam forum klarifikasi yang digelar bersama pihak dekanat, seorang dosen yang hadir dengan mengenakan pakaian batik mengungkapkan keterkejutannya secara langsung.