BACAKORAN.CO - Tak banyak tokoh yang memiliki pengusaan ilmu pengetahuan multidisipliner seperti Al allamah Ibnu Khaldun. Ini ditunjukkannya oleh karya karyanya antara lain kitab al ibar wa diwan al Mubtaba wa al khabar fi ayyam al arab wa al ajam wa al barbar wa man ahsharahum min dzawi as sulthani al akbar ( Kitab pelajaran dan arsip sejarah zaman permulaan da zaman akhir yang mencakup peristiwa politik tentang orang orang arab, non arab dan barbar serta raja raja besar yang semasa dengan mereka). Bahkan kitab Muqadimmah menjadi tokoh soialis kiri Karl Marx dalam bukunya Das kapital.
Uniknya pengantar kita al ibar inilah (muqadimmah) yang menjadikan nama Ibnu Khaldun menjadi harum.
Ibnu Khaldun lahir di Tunisia awal Ramadhan tahun 726 Hijriah. Dia lahir dari keluarga besar yang berbangga besar nasab arabnya yang berasal dari Hadramut Yaman.
Adapun nasab Islamnya kembali pada Wali bin Hujr seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenan dan didoakan oleh Beliau agar mendapat limpahan berkah saat kedatangannya di tahun al wufud untuk menyatakan masuk Islam.
Selain itu Ibnu Khaldun juga mendapat kebanggaan sejarah politik dan sosial dari isybiliaj (sebuah kota Andalusia) dan Tunisia.
“Nama saya abd al Rahman bin Muhammad bin Muhhaman bin hasan bin Muhammad Bin Jibbir Bin Muhammad Bin Ibrahim bin Abd Rahman bin Khaldun” demikian Ibnu khaldun mengawali baris pertama autobiografinya.
BACA JUGA:Bagaimana Ciri-ciri Yajuj dan Majuj? Begini Penjelasan Lengkapnya dari Hadits dan Tafsir Ibnu Katsir
Sosok yang Kritis
Nalar kritis sarjana ini telah terlihat sejak awal dia meragukan akurasi silsilah keluarganya.
Dia menaksir secara pribadi, seandainya leluhurnya telah bermigrasi ke Andalusia pada masa penaklukan arab, maka setikdaknya ada 20 generasi sebelumnya pendiri Bani Khladun.
Pandangan kritis atas fakta tersebut menyadarkan Ibnu Khaldun atas kebutuhan disiplin ilmi baru secara sosial sehingga sejarah bisa dipahami dengan baik.
Keluarga Ibnu Khadun merupakan keluarga ternama dari kalangan politisi dan ilmuwan pada dinasti Ummayah, al Murabitun dan al Muwahhidun di andalusia hingga pertengahan abad 11.
Ayahnya Muhammad Abu Bakr mematahkan tradisi keluarga dengan keluar dari dunia politik dan melanjutkannya sebagai peneliti hingga wafatnya saat wabah Sampar padaa 1348 Hijriah.
BACA JUGA:Pentingnya Keikhlasan Amal dan Tuntunan Nabi Berdasarkan Ibnu Qayyim Al Jauziyyah
Hafiz Quran