BACAKORAN.CO - Tragedi kecelakaan maut KRL Bekasi dan Kereta Api Argo Bromo Anggrek menyisakan duka dan misteri kehilangan bagi sejumlah keluarga penumpang.
Hingga hari Selasa (28/4), nasib seorang pekerja muda bernama Vica Acnia Pratiwi masih belum diketahui setelah insiden mematikan di Stasiun Bekasi Timur tersebut.
Para keluarga korban kecelakaan KRL Bekasi mulai mendatangi Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur untuk mencari kejelasan nasib kerabat mereka.
Salah satu keluarga yang diselimuti kecemasan adalah Watarisin, seorang warga berusia tujuh puluh tahun yang mendatangi gedung Disaster Victim Identification mencari keberadaan keponakannya, Vica Acnia Pratiwi.
Vica diketahui berada di dalam gerbong kereta komuter nahas tersebut saat sedang dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya di ibu kota Jakarta menuju kediamannya di Cikarang Barat.
Kecelakaan maut KRL yang tertabrak kereta jarak jauh ini benar-benar memutus komunikasi korban dengan keluarga. Watarisin memberikan keterangan kepada awak media mengenai hilangnya kontak dengan sang keponakan.
"Keponakan ini pulang kerja. Sejak kejadian itu belum pulang, ditelpon juga sampai sekarang enggak diangkat," kata Watarisin di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa.
Sebelumnya pihak keluarga besar sebenarnya sudah menyisir berbagai rumah sakit di kawasan Bekasi yang menjadi rujukan awal para korban luka, namun hasilnya nihil.
Kabar hilangnya Vica juga sempat menjadi sorotan di platform media sosial X.
Berdasarkan unggahan dari akun @rika.juliansari08, pihak kerabat memohon doa kepada publik.
bantu up guys, keluarga korban post foto adiknya sampe saat ini belum ketemu !!???????????? https://t.co/OzUX2UoRMi pic.twitter.com/RH01KATnqM
— archeerl (@archeerl) April 28, 2026
"Mohon doanya agar adik kami cepat ditemukan dalam keadaan sehat walafiat...adik kami korban kecelakaan kai semalam tas dan laptop sudah ditemukan tapi orangnya belum," tulisnya.
Di Posko Antemortem RS Polri, keluarga menyerahkan data pembanding yang sangat krusial, berupa rekam sidik jari dari ijazah, serta riwayat medis untuk dicocokkan dengan data postmortem.
"Ini saya sama keponakan ke sini, karena orangtua di kampung. Belum ada informasi lanjut dari Rumah Sakit. Lagi dicek ada apa enggak, kalau enggak ada (jenazahnya), ya, syukurlah," ujar Watarisin dengan nada penuh harap.