Buntut Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo di Bekasi, Polisi Ungkap Identitas 15 Penumpang Meninggal

Rabu 29 Apr 2026 - 09:00 WIB
Reporter : Ovi
Editor : Andra

BACAKORAN.CO - Tragedi memilukan kembali mewarnai dunia transportasi Tanah Air setelah terjadi kecelakaan KRL Bekasi Timur yang melibatkan kereta rel listrik jurusan Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek pada Senin malam (27/4).

Peristiwa tabrakan beruntun yang diduga kuat dipicu oleh sebuah taksi di perlintasan ini mengakibatkan 15 penumpang perempuan meninggal dunia dan puluhan lainnya luka parah.

Data resmi kepolisian per Selasa sore menegaskan bahwa seluruh korban jiwa dalam kecelakaan KRL Bekasi Timur telah berhasil diidentifikasi.

Proses identifikasi para korban ini dilakukan secara ketat oleh Tim Disaster Victim Identification atau DVI Polri di Rumah Sakit Polri Kramat Jati.

BACA JUGA:Jadi Biang Keladi Tabrakan Maut di Stasiun Bekasi, Perusahaan Taksi Green SM Tak Minta Maaf, Akunnya Gembokan

Kabid Dokkes Polda Metro Jaya Kombes Pol dr. Martinus Ginting, saat memberikan keterangan resmi di RS Polri Kramat Jati pada Selasa, membenarkan jumlah pasti korban jiwa dalam kecelakaan KRL Bekasi Timur ini.

"Iya, ada 15 (korban) meninggal dunia," ujar Ginting kepada wartawan yang hadir di lokasi.

Identifikasi para korban dilakukan dengan metode medis yang sangat teliti.

Karodokpol Pusdokkes Polri Brigjen Nyoman Eddy Purnama Wirawan, dalam konferensi pers di RS Polri Kramat Jati, memaparkan bahwa tim gabungan menggunakan pencocokan data primer dan sekunder untuk memastikan keakuratan identitas.

"Teridentifikasi melalui data primer yaitu sidik jari dan data sekunder yaitu tanda medis dan properti atau benda kepemilikan," jelas Nyoman.

BACA JUGA:Sempat Dikabarkan Hilang Kontak, Jurnalis Kompas TV, Ain Ternyata Jadi Korban Tragedi Stasiun Bekasi Timur

Menilik dari kronologi awal, insiden yang melibatkan KRL nomor PLB 5568A dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir menuju Surabaya Pasar Turi ini bermula dari KRL yang menabrak sebuah taksi.

Secara analitis teknis keselamatan, hal ini menunjukkan risiko berganda pada perlintasan sebidang.

Benturan awal KRL dengan kendaraan roda empat bermassa berat seringkali memicu kerusakan pada sistem bogie atau anjloknya gerbong, yang merusak ruang bebas jalur rel di sebelahnya.

Ketika kereta antarkota melintas dengan kecepatan tinggi di jalur berdampingan pada waktu yang bersamaan, manuver pengereman darurat menjadi tidak efektif karena bobot dan momentum kereta, sehingga tabrakan susulan tidak dapat dihindari.

Kategori :